iPod kembali naik daun di kalangan anak muda. (Instagram/btgfeed)
INDOZONE.ID - Di era ketika smartphone seakan gak pernah berhenti mengirim notifikasi, sebagian anak muda justru memilih langkah berlawanan, yakni kembali ke perangkat musik sederhana seperti iPod.
Tren ini muncul bukan karena sekadar nostalgia, tetapi sebagai upaya untuk menikmati musik tanpa gangguan media sosial, pesan, hingga aplikasi hiburan lain yang terus-menerus minta diperhatikan.
Penggunaan iPod, terutama iPod Classic dan MP3 player, kini kembali diminati oleh sebagian gen z.
Tujuan utamanya cukup jelas, yakni untuk mendengarkan musik dan terhindar dari distraksi digital.
Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran terhadap konsep digital minimalism, yaitu gaya hidup yang mendorong penggunaan teknologi secara lebih sadar dan terbatas untuk mengurangi overload informasi.
Dalam praktiknya, perangkat seperti iPod dianggap ideal karena hanya berfungsi untuk musik, tanpa notifikasi, tanpa media sosial, dan tanpa algoritma yang terus menarik perhatian pengguna.
Baca juga: Sebuah iPod Generasi Pertama yang Dibeli Tahun 2001 Terjual Seharga Rp440 Juta
Tren ini juga terlihat dari meningkatnya pencarian iPod Classic di platform jual beli seperti eBay, yang dilaporkan naik sekitar 25 persen sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Beberapa unit rekondisi bahkan dilaporkan terjual dengan harga yang cukup tinggi, yakni mendekati Rp11 juta, tergantung kondisi dan kelengkapan perangkat.
Hal ini menunjukkan bahwa perangkat yang dulu dianggap ketinggalan zaman, kini justru kembali memiliki nilai di mata pasar tertentu.
Menariknya, fenomena ini tidak hanya digerakkan oleh orang-orang yang ingin bernostalgia. Data tren menunjukkan sekitar 40 persen pengguna MP3 player saat ini adalah pengguna baru yang baru mulai memakai perangkat tersebut dalam satu tahun terakhir.
Artinya, iPod tidak hanya kembali sebagai barang koleksi, tetapi juga sebagai alat fungsional untuk gaya hidup baru yang lebih minimalis secara digital.
Fenomena ini juga sering dikaitkan dengan istilah friction-maxxing, yaitu kebiasaan sengaja memilih teknologi yang lebih ribet atau terbatas demi mengurangi distraksi digital.
Contohnya termasuk menggunakan iPod untuk musik, kamera digital lama untuk foto, atau bahkan ponsel sederhana tanpa aplikasi media sosial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/btgfeed, The Verge, BBC Future