INDOZONE.ID - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan masyarakat untuk tak tergesa-gesa mengambil keputusan terkait dunia digital.
Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital Komdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menyebut jeda sesaat dapat berpengaruh besar agar tidak menjadi korban kejahatan di dunia digital.
"Jeda ini harus jadi budaya, karena memberikan kejernihan berpikir atau rasional agar melakukan keputusan yang terbaik," kata Boni, sapaan Bonifasius Wahyu Pudjianto, dalam sebuah acara di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Berdasarkan data Indonesia Anti Scam Center, terdapat 432.637 aduan penipuan dengan total kerugian Rp9,1 triliun pada periode 22 November 2024 hingga 14 Januari 2026.
Sementara Survei APJII 2025 menunjukkan 22,12 persen pengguna internet Indonesia pernah mengalami penipuan online.
Karena itu, Direktur Pemberdayaan Konsumen di Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (Ditjen PKTN) Kementerian Perdagangan, Immanuel Tarigan Sibero, turut mendukung hal tersebut.
Baca juga: Waspada Bukti Transfer Palsu saat Transaksi QRIS, Ini Tips Mencegahnya
Apalagi, menurut dia, mayoritas penipuan di dunia digital didominasi oleh hal-hal yang berkaitan dengan transaksi keuangan.
"Sehingga jeda ini sangat relevan. Konsumen berdaya, bijak bertransaksi," katanya.
Senada dengan hal ini, PT Global Digital Niaga Tbk atau Blibli menghadirkan inisiatif JEDA sebagai pendekatan sederhana untuk membantu masyarakat merespons informasi dengan lebih tenang, baik di ruang digital maupun kehidupan sehari-hari.
JEDA merupakan singkatan dari Jangan Reaktif, Evaluasi, Double-check, Ambil keputusan dengan tenang.
Melalui microsite jeda10detik.com, Blibli mengajak masyarakat mengambil jeda selama 10 detik sebelum bereaksi terhadap informasi, penawaran, atau situasi yang berpotensi memicu keputusan impulsif.
Head of PR Blibli, Nazrya Octora, mengatakan inisiatif ini lahir dari kebutuhan untuk membangun kebiasaan yang lebih bijak di tengah derasnya arus informasi.
Baca juga: Komdigi Perketat Pengawasan Platform Digital untuk Tekan Kekerasan Seksual di Ranah Digital
“Sebagai pelopor ekosistem perdagangan omnichannel, Blibli berkomitmen menghadirkan pengalaman yang dapat dipercaya di setiap titik interaksi. Inisiatif JEDA lahir dari pemahaman bahwa kualitas keputusan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi juga oleh kejernihan,” ujar Nazrya.
Eksperimen sosial JEDA berlangsung pada 19 Februari hingga 31 Maret 2026 dan melibatkan lebih dari 158 ribu warga Indonesia. Hasilnya, tujuh dari 10 peserta mengaku merasa lebih tenang setelah melakukan jeda 10 detik.
Selain itu, fitur permainan sederhana di jeda10detik.com dinilai membantu mengalihkan dorongan impulsif menjadi aktivitas ringan yang lebih menenangkan.
Nazrya menegaskan, ekosistem digital yang aman tidak hanya dibangun oleh teknologi, tetapi juga kebiasaan pengguna.
“Kami percaya, ekosistem yang aman dan terpercaya tidak hanya dibangun oleh teknologi, tetapi juga oleh kebiasaan. Di tengah arus informasi yang serba cepat, kita selalu punya pilihan untuk berhenti sejenak, karena keputusan yang lebih baik dimulai dari ruang jeda,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan