Ilustrasi chip otak (freepik).
INDOZONE.ID - Perlombaan teknologi chip otak (brain-computer interface/BCI) antara China dan Amerika Serikat kian sengit.
Sebuah startup terkemuka yang didukung pemerintah Beijing, NeuCyber Neurotech, secara terbuka mengakui bahwa produk tercanggih mereka masih tertinggal tiga tahun dari Neuralink milik Elon Musk.
Pengakuan ini disampaikan langsung oleh Li Yuan, rotating CEO NeuCyber, Kamis (20/3/2026).
"Tolok ukur untuk Beinao-2 adalah Neuralink. Saya harus mengatakan, ada jeda sekitar tiga tahun karena mereka sudah memiliki lebih dari 20 pasien yang menggunakannya," ujarnya.
Baca juga: Mudik Lebih Asyik! Ini 7 Aplikasi Musik Offline yang Bisa Dicoba
Keunggulan teknis Neuralink terletak pada robot bedahnya yang mampu menyisipkan ratusan elektroda ke dalam otak hanya dalam hitungan menit.
Sementara itu, produk andalan NeuCyber, Beinao-2, saat ini masih dalam tahap implantasi skala besar pada hewan.
Menurut Li, produk mereka masih harus melalui uji coba pada hewan, uji klinis awal, hingga uji coba sungguhan yang diperkirakan memakan waktu sekitar dua tahun.
"Kami baru saja menyelesaikan produk pertama," tambahnya.
Baca juga: Unisoc Bukan Lagi Chipset 'Lemah': Simak Rahasia di Balik Dominasi
Meski tertinggal, China tidak tinggal diam. Pekan lalu, negara Tirai Bambu menjadi negara pertama di dunia yang menyetujui perangkat medis BCI invasif untuk penggunaan komersial.
China juga menjadi negara kedua yang meluncurkan uji coba BCI pada manusia setelah AS.
Dalam rencana lima tahun terbarunya, Beijing secara resmi menjadikan BCI sebagai industri strategis masa depan, setara dengan teknologi kuantum, AI, dan fusi nuklir.
Baca juga: Jeff Bezos Siapkan Dana Rp1.600 Triliun, Mau 'Caplok' Perusahaan Manufaktur dan 'Suntik' AI
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters