INDOZONE.ID - Tradisi mengunggah twibbon saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi cara banyak siswa memperkenalkan diri dan merayakan momen masuk sekolah baru.
Namun, pengamat keamanan siber mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut juga perlu disertai kehati-hatian agar tidak membuka celah penyalahgunaan data pribadi.
Ketua lembaga riset keamanan siber CISSReC, Pratama Persadha, mengatakan twibbon MPLS memang memiliki nilai positif sebagai bentuk kebersamaan dan kebanggaan menjadi bagian dari sekolah baru.
Meski demikian, informasi pribadi yang dibagikan secara terbuka di media sosial dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Dari sisi kebersamaan dan kebanggaan sebagai bagian dari sekolah baru, tren tersebut tentu memiliki nilai positif. Namun, dari sudut pandang keamanan siber dan perlindungan data pribadi, kebiasaan tersebut juga perlu disikapi secara lebih bijaksana," kata Pratama dikutip dari Antara, Minggu (19/7/2026).
Baca juga: Hati-hati! Angkat Telepon Tanpa Suara (Silent Call) Bisa Bobol Data Pribadi!
Menurutnya, data seperti foto wajah, nama lengkap, domisili, asal sekolah, hingga identitas lainnya berpotensi dikumpulkan menggunakan teknik Open Source Intelligence (OSINT).
Melalui metode tersebut, pelaku dapat menyusun profil digital seseorang hanya dari informasi yang tersedia di internet tanpa perlu meretas akun.
"Teknik ini memungkinkan berbagai informasi yang tersebar di internet dikumpulkan, dikorelasikan, dan disusun menjadi profil digital seseorang tanpa harus meretas akun miliknya. Semakin banyak data yang dibagikan secara sukarela, semakin mudah pula identitas seseorang dipetakan," jelasnya.
Pratama menjelaskan, informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan social engineering, yaitu teknik manipulasi yang membuat pelaku tampak sebagai orang terpercaya, misalnya mengaku sebagai guru, panitia sekolah, teman sekelas, atau bahkan orang tua.
Selain itu, foto yang diunggah ke media sosial juga berpotensi disalahgunakan untuk membuat identitas palsu maupun dimanipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Baca juga: Robot Pendamping AI dari China Jadi Sorotan, Inovasi Canggih atau Ancaman?
Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi perundungan digital, pelecehan daring, hingga penguntitan. Dengan mengetahui identitas dan sekolah korban, pelaku dapat membangun komunikasi yang terlihat alami sehingga lebih mudah mendapatkan kepercayaan.
"Hal tersebut sangat berbahaya terutama bagi anak dan remaja yang umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengenali berbagai modus manipulasi digital," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA