Pendiri Amazon, Jeff Bezos (photo/REUTERS/Katherine Taylor)
INDOZONE.ID - Langkah besar kembali diambil oleh pendiri Amazon, Jeff Bezos.
Menurut laporan Wall Street Journal, Kamis (19/3/2026), pria terkaya di dunia itu tengah dalam tahap awal pembicaraan untuk menggalang dana sebesar $100 miliar atau sekitar Rp1.600 triliun.
Uang sebanyak itu akan digunakan untuk membeli perusahaan-perusahaan manufaktur dan kemudian merevitalisasinya dengan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dana sebesar itu tidak bisa dikumpulkan sendirian. Bezos dilaporkan telah mengadakan pembicaraan dengan sejumlah manajer aset terbesar di dunia.
Beberapa bulan lalu, ia bahkan terbang ke Timur Tengah untuk bertemu dengan perwakilan dana kekayaan negara (sovereign wealth funds) di kawasan tersebut.
Baca juga: Mau Jadi Streamer? Kenali Saweria, Senjata Rahasia Kreator Lokal Biar Cepat Cuan!
Dalam dokumen yang diberikan kepada investor, proyek ambisius ini disebut sebagai "kendaraan transformasi manufaktur" (manufacturing transformation vehicle).
Target utamanya adalah perusahaan-perusahaan besar di industri strategis seperti pembuatan chip (semikonduktor), pertahanan, dan kedirgantaraan (aerospace).
Bayangkan, pabrik-pabrik besar yang selama ini beroperasi dengan cara konvensional akan diakuisisi dan kemudian diotomatisasi menggunakan teknologi AI paling mutakhir.
Ini adalah visi Bezos untuk masa depan industri: efisiensi maksimal dengan campur tangan minimal dari manusia.
Baca juga: Daftar Urutan Prosesor Intel 2026: Dari Seri Murah Hingga Teknologi AI Tercanggih.
Rencana penggalangan dana besar ini berkaitan erat dengan startup AI milik Bezos yang diberi nama Project Prometheus.
Startup ini didedikasikan untuk mengembangkan AI bagi bidang teknik dan manufaktur, mencakup industri komputer, otomotif, dan pesawat luar angkasa.
Project Prometheus juga sedang dalam pembicaraan untuk menggalang dana hingga $6 miliar secara terpisah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters