INDOZONE.ID - Perkembangan kecerdasan buatan seperti ChatGPT telah membawa banyak manfaat bagi dunia, mulai dari membantu penelitian medis hingga mendeteksi kanker lebih dini.
Namun, di balik kemajuan itu, muncul tren baru yang mengejutkan: menggunakan ChatGPT untuk menulis obituari orang yang telah meninggal.
Baca juga: ChatGPT Belajar Bahasa Banjar, Bisa Ngga Ya?
ChatGPT dan Fenomena Obituari Digital
Menurut laporan dari The Washington Post, sejumlah rumah duka kini memanfaatkan ChatGPT untuk menyusun obituari tanpa memberi tahu keluarga klien.
Tindakan ini tentu menimbulkan kekhawatiran etis, apalagi AI kerap menambahkan narasi sentimental yang tidak berdasarkan fakta, seperti menyebut seseorang meninggal dengan damai di pelukan keluarga—tanpa bukti nyata.
Seorang karyawan rumah duka menyampaikan bahwa mereka tidak tahu pasti apakah kematian tersebut damai atau tidak, namun ChatGPT sering menyimpulkan sendiri untuk membuat tulisan terasa menyentuh.
Yang mengejutkan, penggunaan ChatGPT tidak hanya dilakukan oleh institusi, tetapi juga individu biasa yang merasa kesulitan menuangkan perasaan di masa berduka.
Contohnya, seorang warga Nevada mengaku puas setelah menggunakan ChatGPT untuk membuat obituari ibunya.
Ia bahkan berniat menggunakan fitur Deep Research Mode saat tiba waktunya menulis obituari sang ayah.
Obituari Jadi Lahan Bisnis AI
Fenomena ini tidak berhenti sebagai solusi pribadi. Saat ini, banyak perusahaan yang melihat peluang besar dari penggunaan AI untuk menulis obituari.
Salah satu contohnya adalah CelebrateAlly, perusahaan yang didirikan oleh mantan karyawan Microsoft. Mereka menawarkan layanan penulisan obituari AI dengan harga mulai dari $5 untuk 100 kredit.
Umumnya, satu obituari membutuhkan sekitar 10 kredit saja.
Kamu bahkan bisa memilih model AI yang digunakan, seperti ChatGPT atau Claude dari Anthropic, serta menyesuaikan nada dan gaya tulisan.
Meski terdengar praktis, fitur ini tidak bebas dari risiko.
Ketika diberi permintaan menulis obituari yang ceria untuk tokoh fiktif, AI bisa saja mengarang fakta seperti hari kelahiran, kebiasaan unik, atau pengalaman hidup, termasuk mendirikan teater komunitas dan menjadi mentor komedian yang sukses.
Risiko Ketergantungan pada AI
Perangkat AI seperti ChatGPT bukan satu-satunya yang membuat narasi palsu. Gemini AI milik Google pernah menyarankan pengguna untuk menambahkan lem ke pizza mereka.
AI milik Microsoft juga menunjukkan hasil yang menyesatkan. Studi terbaru bahkan menyebutkan bahwa terlalu bergantung pada AI dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis serta menghambat proses penelitian ilmiah yang sesungguhnya.
Lebih jauh lagi, kehadiran aplikasi AI seperti Character AI dan Nomi telah memunculkan fenomena di mana pengguna menjadi terlalu terikat secara emosional dengan pasangan virtual ciptaan AI.
Beberapa pengguna bahkan mengaku "menghamili" pasangan AI mereka dan lebih memilih realitas digital dibandingkan interaksi sosial nyata, rela membayar ratusan dolar demi mempertahankan hubungan semu tersebut.
Penggunaan AI untuk menulis obituari memang bisa membantu sebagian orang mengungkapkan duka dengan cara yang lebih mudah dan personal.
Namun, ketika teknologi ini dijadikan bisnis masif tanpa pertimbangan etis yang matang, ada risiko manipulasi emosi, penyebaran informasi palsu, serta penghilangan peran manusia dalam momen yang seharusnya bersifat intim dan tulus.
Sebelum kamu memutuskan untuk menggunakan AI seperti ChatGPT untuk tujuan sensitif seperti obituari, penting untuk mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan yang tak bisa digantikan oleh teknologi.
AI bisa jadi alat bantu yang hebat, tetapi bukan pengganti empati manusia.
Baca juga: ChatGPT Tembus 2,5 Miliar Permintaan per Hari, Ini Dampaknya untuk Dunia Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Digitaltrends.com