Ilustrasi artificial inteligence. (Freepik/Iuriimotov)
INDOZONE.ID - Raksasa teknologi ramai-ramai menjanjikan bahwa kecerdasan buatan (AI) generatif akan menjadi penyelamat planet dari krisis iklim.
Namun, sebuah laporan terbaru mengungkap bahwa klaim-klaim besar tersebut seringkali tidak didukung oleh bukti yang kuat, bahkan banyak yang hanya berdasarkan asumsi tanpa data jelas.
Kisah ini bermula ketika Ketan Joshi, seorang peneliti energi, membaca statistik mencolok dari Google pada akhir 2023.
Google mengklaim bahwa AI dapat membantu memangkas emisi gas rumah kaca global sebesar 5 hingga 10 persen pada tahun 2030—angka yang setara dengan total emisi tahunan Uni Eropa.
Joshi terkejut dan memutuskan menelusuri asal-usul angka fantastis itu.
Baca juga: Manusia Ketar-Ketir: Era ASI “Dewa” AI Sudah Dekat
Hasil penelusurainya? Angka tersebut ternyata bersumber dari makalah yang dibuat Google bersama konsultan BCG.
Makalah itu merujuk pada analisis BCG tahun 2021 yang hanya mendasarkan estimasi pengurangan emisi besar-besaran dari AI pada "pengalaman dengan klien" perusahaan—sebuah sumber yang oleh Joshi disebut sebagai "rapuh" (flimsy).
Ironisnya, analisis itu dibuat setahun sebelum ChatGPT meledak dan memicu perlombaan infrastruktur AI yang sangat boros energi.
Meski dalam laporan keberlanjutannya tahun 2023 Google mengakui bahwa pembangunan AI justru meningkatkan emisi perusahaan, mereka tetap mempromosikan angka dari BCG tersebut.
Google membela metodologinya dengan alasan transparan, namun tidak menjelaskan secara rinci bagaimana standar itu diterapkan pada angka kontroversial tersebut.
Baca juga: Studi: Saran Kesehatan dari Chatbot AI Sering Tidak Akurat dan Berisiko
Temuan Google ini hanyalah satu dari sekian banyak contoh.
Joshi kemudian merilis laporan baru yang didukung sejumlah organisasi lingkungan, menganalisis lebih dari 150 klaim dari perusahaan teknologi, asosiasi energi, dan pihak lain tentang bagaimana AI akan memberi manfaat iklim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wired.com