INDOZONE.ID - Ketika Amerika Serikat membatasi akses China dalam teknologi, banyak pihak, baik konsumen maupun brand-brand Hp terkenal, menganggap China akan tertinggal dalama hal teknologi.
Namun, beberapa tahun setelahnya, salah satu petinggi Huawei justru menunjukkan perlawanan terhadap pendapat-pendapat itu.
Xu Zhijun, Rotating Chairman sekaligus Deputy Chairman Huawei menyebut Washington 'memberikan dukungan' yang besar dalam perkembangan perusahaan dan industri semikonduktor China.
Menurutnya, berbagai pembatasan ekspor memaksa perusahaan-perusahaan China untuk berinovasi lebih cepat, berinvestasi lebih besar dalam penelitian dan pengembangan, serta membangun fondasi teknologi yang lebih mandiri.
Pernyataan itu muncul ketika Xu ditanya mengenai bagaimana Huawei berhasil mengembangkan LogicFolding, arsitektur chip baru yang dianggap sebagai salah satu terobosan penting perusahaan.
Jawabannya cukup mengejutkan: tanpa tekanan dari Amerika Serikat, inovasi semacam itu mungkin tidak akan pernah muncul.
Huawei: Tekanan dari AS Memaksa Kami Berubah
Baca juga: Huawei Nova 16z Resmi Rilis! Dengan Fitur Konektivitas Satelit, Ini Spesifikasi Lengkap dan Harganya
Dalam wawancara tersebut, Xu secara terbuka mengakui bahwa tekanan yang diberikan Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang mendorong transformasi industri teknologi China.
Menurutnya, jika perusahaan-perusahaan China tetap memiliki akses bebas terhadap teknologi asing, mereka mungkin akan terus bergantung pada pemasok luar negeri.
Situasi berbeda terjadi setelah Washington mulai menutup berbagai jalur akses terhadap chip dan teknologi penting.
Huawei, yang menjadi salah satu target utama kebijakan tersebut, tidak memiliki banyak pilihan selain mencari solusi sendiri.
Dari sinilah lahir berbagai upaya pengembangan teknologi internal, termasuk arsitektur LogicFolding yang disebut Xu sebagai contoh nyata bagaimana keterbatasan dapat memicu inovasi.
DIa bahkan memnekankan bahwa industri semi konduktor China dalam keadaan yang sangat baik karena banyaknya perusahaan, investor, dan institusi mendukung pengembangan teknologi.
Awal Konflik Teknologi AS dan China
Huawei termasuk perusahaan pertama yang terkena dampak besar dari kebijakan Washington.
Pada 2019, Donald Trump memasukkan Huawei dan sejumlah perusahaan teknologi China ke dalam daftar pembatasan yang secara efektif menghalangi mereka mengakses berbagai teknologi Amerika.
Langkah tersebut menandai dimulainya fase baru dalam persaingan teknologi antara dua negara.
Tekanan kemudian meningkat pada 2022 ketika pemerintahan Joe Biden memperkenalkan aturan ekspor yang membatasi penjualan chip AI berperforma tinggi ke China.
Kebijakan ini menutup akses perusahaan-perusahaan China terhadap sejumlah produk unggulan seperti Nvidia A100, Nvidia H100, AMD Instinct MI250, dan MI250X.
Bagi industri kecerdasan buatan China, kebijakan tersebut merupakan pukulan besar.
Chip-chip itu menjadi tulang punggung berbagai sistem AI modern dan digunakan secara luas untuk melatih model kecerdasan buatan skala besar.
Sebagai respons, Nvidia dan AMD sempat mengembangkan versi yang lebih lemah dari produk mereka agar tetap memenuhi aturan ekspor Amerika Serikat.
Namun situasi kembali berubah ketika Donald Trump, dalam masa jabatan keduanya, menerapkan larangan yang jauh lebih ketat.
Baca juga: Harga dan Fitur Huawei Watch Fit 5 Pro, Smartwatch Tipis dengan Fitur Kesehatan Super Lengkap
Kebijakan itu memaksa Nvidia menghapus nilai persediaan GPU senilai sekitar 5,5 miliar dolar AS dan membuat AMD kehilangan potensi penjualan sekitar 800 juta dolar AS.
Meski kemudian Trump melonggarkan sebagian aturan dengan mengizinkan ekspor chip H200 melalui mekanisme lisensi khusus, kondisi industri semikonduktor saat itu sudah berubah secara signifikan.
Ketika Pasar Dipaksa Mencari Alternatif Lokal
Larangan ekspor menciptakan persoalan besar bagi perusahaan-perusahaan China yang membutuhkan daya komputasi tinggi untuk pengembangan AI.
Sebagian perusahaan memang mencoba memperoleh chip melalui jalur tidak resmi atau pasar gelap. Namun mayoritas perusahaan memilih pendekatan yang lebih berkelanjutan, yaitu beralih ke produk lokal.
Awalnya pilihan tersebut bukan karena chip buatan China lebih unggul. Faktanya, banyak produk domestik masih tertinggal dari Nvidia maupun AMD dalam hal performa dan efisiensi energi.
Namun bagi banyak perusahaan, menggunakan chip lokal tetap lebih baik daripada tidak memiliki akses terhadap chip sama sekali.
Perubahan pola pembelian ini menghasilkan dampak ekonomi yang penting. Ketika permintaan terhadap chip domestik meningkat, produsen lokal memperoleh pendapatan yang lebih besar.
Dana tersebut kemudian digunakan kembali untuk memperkuat penelitian dan pengembangan teknologi. Siklus inilah yang perlahan mempercepat kemajuan industri semikonduktor China.
Perusahaan-perusahaan lokal memperoleh pelanggan, mendapatkan pemasukan, lalu menginvestasikan keuntungan mereka untuk menciptakan generasi chip yang lebih kompetitif.
Strategi Beijing untuk Kemandirian Semikonduktor
Perkembangan tersebut tidak terjadi sendirian. Pemerintah China juga memainkan peran besar dalam mempercepat upaya kemandirian teknologi.
Beijing selama beberapa tahun terakhir secara aktif mendorong perusahaan-perusahaan teknologi untuk menggunakan produk buatan dalam negeri.
Tujuannya jelas, yaitu mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing sekaligus memperkuat industri lokal.
Bahkan ketika beberapa perusahaan masih ingin membeli chip Nvidia karena ekosistem CUDA yang sudah matang dan banyak digunakan dalam pengembangan AI, pemerintah tetap mendorong penggunaan alternatif domestik.
Dorongan itu tidak hanya berupa kebijakan umum. Otoritas China disebut mengambil langkah lebih tegas dengan menginstruksikan petugas bea cukai untuk membatasi masuknya chip AI tertentu dari luar negeri.
Baca juga: Harga dan Fitur Huawei Watch Fit 5, Smartwatch Baru yang Hadir di Indonesia Bulan Ini!
Pembatasan tersebut bahkan diperluas hingga mencakup beberapa produk GPU yang dirancang khusus untuk pasar China. Kebijakan ini menciptakan pasar yang relatif terlindungi bagi produsen lokal.
Dalam jangka pendek, perusahaan-perusahaan pengguna mungkin harus beradaptasi dengan perangkat keras yang belum sekuat produk Amerika.
Namun dalam jangka panjang, strategi tersebut memberi ruang bagi industri domestik untuk berkembang.
Kekhawatiran Nvidia Menjadi Kenyataan
Menariknya, kondisi yang terjadi saat ini sejalan dengan peringatan yang pernah disampaikan CEO Nvidia, Jensen Huang. Sejak awal, Huang tidak setuju dengan larangan ekspor chip AI ke China.
Menurutnya, menjaga kehadiran teknologi Amerika di pasar global merupakan cara terbaik untuk mempertahankan pengaruh dan kepemimpinan teknologi Amerika Serikat.
Ia juga memperingatkan bahwa jika perusahaan-perusahaan China diputus dari akses terhadap teknologi Amerika, mereka akan terdorong untuk mengembangkan solusi sendiri yang pada akhirnya dapat menjadi pesaing serius bagi perusahaan-perusahaan AS.
Beberapa tahun kemudian, kekhawatiran tersebut mulai terlihat nyata.
Menurut Huang, pangsa pasar Nvidia di sektor chip AI China yang sebelumnya mencapai sekitar 95 persen kini telah turun menjadi nol persen.
Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan China terus mengembangkan model AI mutakhir dan tetap mampu bersaing dengan perusahaan teknologi Amerika dalam berbagai bidang.
Hal ini menunjukkan bahwa pembatasan ekspor memang berhasil menghambat perkembangan China untuk sementara waktu, tetapi tidak menghentikannya sepenuhnya.
Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Tidak dapat dipungkiri bahwa larangan ekspor chip memberikan dampak negatif terhadap industri AI China.
Perkembangan sejumlah proyek tertunda dan perusahaan harus menghadapi keterbatasan perangkat keras yang tidak ideal. Namun efek tersebut ternyata bersifat sementara.
Dalam periode yang sama, perusahaan-perusahaan lokal mulai membangun kemampuan yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Mereka mengembangkan desain chip baru, memperkuat rantai pasok domestik, serta meningkatkan investasi penelitian secara agresif. Hasilnya mulai terlihat sekarang.
Baca juga: Harga dan Spesifikasi Huawei Watch Fit 5 dan Watch Fit 5 Pro di Indonesia
Produk-produk lokal yang dulu hanya dianggap sebagai alternatif darurat perlahan berkembang menjadi solusi yang mampu bersaing dalam sejumlah aspek, meskipun masih menghadapi tantangan dalam efisiensi daya dan performa absolut.
Bagi Huawei, inilah alasan mengapa tekanan dari Amerika Serikat justru dipandang sebagai katalis.
Kebijakan yang dirancang untuk memperlambat kemajuan teknologi China secara tidak langsung mendorong lahirnya industri yang lebih mandiri dan lebih fokus pada inovasi domestik.
Persaingan semikonduktor antara Amerika Serikat dan China masih jauh dari selesai.
Namun satu hal semakin jelas, pembatasan ekspor tidak hanya mengubah jalur perkembangan teknologi China, tetapi juga mempercepat proses yang mungkin membutuhkan waktu jauh lebih lama jika akses terhadap chip Amerika tetap terbuka.
Dalam pandangan Huawei, tekanan tersebut bukan sekadar hambatan, melainkan pemicu lahirnya generasi baru industri semikonduktor China.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Tomshardware.com