INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pemerintah AS ambil saham Intel sebesar 10 persen melalui sebuah kesepakatan khusus.
Langkah ini bukan sekadar transaksi bisnis, tetapi juga bagian dari strategi Gedung Putih untuk memperkuat industri semikonduktor dalam negeri sekaligus menjaga dominasi Amerika di sektor teknologi.
Kesepakatan ini memungkinkan AS ambil saham Intel 10 persen dengan total nilai sekitar US $8,9 miliar, atau US $20,47 per lembar saham. Angka tersebut berada di bawah harga pasar yang ditutup di level US $24,80 per saham pada Jumat lalu.
Baca juga: Intel Siap Tantang Dominasi 3D V-Cache AMD dengan CPU Nova Lake
Dana pembelian saham Intel berasal dari sisa hibah Undang-Undang CHIPS era Joe Biden senilai US $5,7 miliar, ditambah US $3,2 miliar dari program Secure Enclave. Dengan cara ini, hibah yang belum digunakan resmi dikonversi menjadi ekuitas.
Menurut Trump, keputusan Trump ambil saham Intel ini akan memastikan perusahaan mendapat kucuran dana segar sekitar US $10 miliar untuk pembangunan dan perluasan pabrik chip di Amerika Serikat.
“Kita mendapatkan US $10 miliar untuk Amerika, sebuah kesepakatan yang sangat menguntungkan,” ujar Trump dalam konferensi pers.
Baca juga: Intel Perkenalkan Prosesor Terbaru 'Intel Xeon 6' untuk AI dan Solusi Jaringan
Tak lama setelah pengumuman, saham Intel melonjak 5,5 persen pada perdagangan reguler dan naik lagi sekitar 1 persen dalam sesi lo lanjutan.
Meski investasi pemerintah AS di Intel cukup besar, status kepemilikannya hanya pasif. Artinya, pemerintah tidak mendapatkan kursi di dewan direksi.
Namun, pemerintah tetap akan ikut memberikan suara dalam keputusan penting pemegang saham dengan beberapa pengecualian terbatas.
Selain itu, kesepakatan juga mencakup opsi (warrant) selama lima tahun pada harga US $20 per saham untuk tambahan 5 persen saham Intel, yang bisa digunakan jika perusahaan kehilangan kendali atas bisnis foundry-nya.
Sejumlah analis menilai langkah ini hanya memberi waktu tambahan, bukan solusi menyeluruh. Intel masih tertinggal dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) dalam hal teknologi, dan pangsa pasarnya di CPU terus tergerus oleh AMD.
Di pasar chip kecerdasan buatan (AI), Intel juga kalah bersaing dengan Nvidia yang kini menjadi pemain dominan. Analis menekankan bahwa tanpa strategi teknologi yang jelas, suntikan dana saja tidak cukup untuk membalikkan keadaan.
CEO baru Intel, Tan Lip-Bu, menghadapi tantangan berat. Selain harus membalikkan kerugian tahunan US $18,8 miliar pada 2024, ia juga harus mengatasi sorotan publik terkait investasinya di berbagai perusahaan chip Tiongkok.
Meski begitu, kesepakatan dengan Gedung Putih ini dianggap memberi nafas baru bagi Intel untuk bangkit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters