Assassin;s Creed(Sumber:gamesradar.com)
INDOZONE.ID - Assassin’s Creed Shadows menjadi tonggak penting dalam evolusi seri panjang Ubisoft ini, karena untuk pertama kalinya perbedaan fisik protagonis benar-benar diterjemahkan secara nyata ke dalam cara kamu bergerak, memanjat, dan menyusup di dunia permainan.
Baca juga: Assassin’s Creed Shadows Hadirkan Crossover Mengejutkan dengan Attack on Titan
Ubisoft secara sadar merancang Yasuke dan Naoe dengan postur, bobot, dan gaya bergerak yang berbeda, sehingga setiap karakter terasa unik dan tidak sekadar pergantian model visual semata.
Menurut Simon Lemay-Comtois selaku associate game director, perbedaan seperti ukuran tubuh, jenis kelamin, dan kekuatan fisik seharusnya memengaruhi bagaimana seorang Assassin berinteraksi dengan dunia, dan pendekatan ini menjadi fondasi penting bagi masa depan seri.
Naoe digambarkan sebagai Assassin yang sangat lincah, dengan akses ke grappling hook yang memungkinkan kamu memanjat ke atas atau turun dengan kecepatan dan fleksibilitas yang belum pernah ada di Assassin’s Creed sebelumnya.
Sementara itu, Yasuke menawarkan gaya bergerak yang berbeda, tetap gesit namun terasa lebih berbobot, sehingga pendekatan stealth, traversal, dan pertarungan terasa lebih kontekstual dengan fisik karakter yang kamu gunakan.
Berlatar di wilayah Kansai pada era 1500-an, Assassin’s Creed Shadows menghadirkan kastil, kota, dan benteng dengan struktur vertikal yang kompleks, memberikan ruang luas bagi sistem gerakan baru untuk benar-benar bersinar.
Detail arsitektur yang padat ini membuat perbedaan kemampuan Yasuke dan Naoe terasa relevan, karena setiap sudut dunia dirancang untuk merespons cara kamu memanjat, melompat, dan menyusup secara berbeda.
Pendekatan ini membuka peluang besar bagi Assassin’s Creed selanjutnya, di mana karakter dengan bentuk tubuh berbeda dapat membuka jalur traversal unik dan memaksa pemain memikirkan strategi eksplorasi yang lebih variatif.
Ke depannya, kamu bisa saja dihadapkan pada situasi yang menuntut kerja sama dua karakter dengan kemampuan fisik berbeda, menciptakan hubungan gameplay yang lebih dalam antara protagonis dan dunia.
Jika Ubisoft konsisten mengembangkan ide ini, Assassin’s Creed tidak lagi sekadar soal parkour yang seragam, melainkan pengalaman yang lebih personal tergantung siapa Assassin yang kamu mainkan.
Hal ini berpotensi membuat setiap game terasa segar, karena perubahan protagonis tidak hanya memengaruhi cerita, tetapi juga cara kamu menjelajahi dan menaklukkan dunia permainan.
Meski Ubisoft belum mengungkap proyek Assassin’s Creed setelah Shadows, arah desain ini memberi sinyal kuat bahwa dinamika gerakan akan menjadi senjata baru dalam konflik abadi melawan Templar.
Bagi kamu sebagai penggemar lama, Assassin’s Creed Shadows terasa seperti awal dari fase baru, di mana identitas karakter dan gameplay akhirnya berjalan seiring, bukan berdiri sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Gamesradar