Rabu, 29 JANUARI 2025 • 10:25 WIB

Setelah Gagal di 2020, Microsoft akan Mencoba Akuisisi TikTok Lagi?

Author

Ilustrasi Kantor Microsoft

INDOZONE.ID - TikTok kembali menjadi pembicaraan hangat, setelah Donald Trump mengkalim bahwa Microsoft sedang menjalin pembicaraan untuk membeli media sosial tersebut.

Dengan pengguna yang begitu banyak di Amerika Serikat, nasib TikTok masih menggantung di tengah isu keamanan data dan hubungan politik dengan Tiongkok.

Baca Juga: Microsoft Ajak Pengguna Segera Upgrade ke Windows 11, Tanda Akhir Windows 10?

Microsoft Berminat Ambil Alih TikTok

Trump mengungkapkan, Microsoft sedang dalam tahap negosiasi untuk mengakuisisi TikTok. Langkah ini dianggap sebagai solusi untuk memastikan data pengguna Amerika tetap aman.

Baca Juga: Solusi Cerdas untuk Pengelolaan Pengguna di Microsoft 365: Mengenal Cloud Policy Service

TikTok, yang dimiliki oleh perusahaan Tiongkok, ByteDance, sering dituduh menjadi ancaman keamanan karena kemungkinan data penggunanya dapat diakses oleh pemerintah Tiongkok.

Sebagai salah satu aplikasi yang paling populer di dunia, TikTok memiliki lebih dari 170 juta pengguna aktif di Amerika Serikat.

tiktok (pixabay)

Popularitasnya yang terus meningkat, menjadi alasan utama mengapa pemerintah AS ingin memastikan kontrol atas operasional aplikasi ini.

Baca Juga: Pengguna TikTok di AS Mengaku Aplikasi Terasa Berbeda Setelah Larangan Dicabut

TikTok Hampir Dilarang di Amerika Serikat

Di bawah pemerintahan Trump, TikTok pernah menghadapi ancaman larangan penuh di Amerika Serikat.

Pada saat itu, Trump memberikan waktu 75 hari kepada ByteDance untuk menjual aset TikTok di AS kepada perusahaan lokal. Jika tidak, aplikasi ini akan dilarang beroperasi.

Baca Juga: MrBeast Mengajukan Diri Membeli Tiktok: Awalnya Bercanda ternyata Serius

Kebijakan ini muncul karena pemerintah khawatir data pengguna TikTok dapat dimanfaatkan pihak asing untuk tujuan yang berbahaya.

Dengan mendorong perusahaan lokal seperti Microsoft mengambil alih, pemerintah AS berharap dapat menjaga privasi dan keamanan warganya.

Donald Trump. (REUTERS/Andrew Kelly)

Negosiasi Microsoft dan TikTok: Babak Baru

Pada tahun 2020, Microsoft pernah mencoba mengakuisisi TikTok di Beberapa negara termasuk AS, Kanada, Autralia, dan Selandia Baru.

Baca Juga: Mau Stalking TikTok Mantan atau Gebetan Tanpa Ketahuan? Pakai 3 Cara Ini!

Namun, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan, karena ByteDance menolak tawaran mereka.

Meski demikian, Microsoft tetap menunjukkan minatnya terhadap TikTok.

CEO Microsoft, Satya Nadella, bahkan pernah menyebut negosiasi terkait TikTok sebagai salah satu pengalaman paling unik selama ia memimpin perusahaan.

Baca Juga: Donald Trump Selamatkan TikTok dengan Menghentikan Larangan Selama 75 Hari

Kini, pembicaraan ini kembali mencuat, memberikan harapan baru bahwa kesepakatan mungkin tercapai kali ini.

Keamanan Data Jadi Fokus Utama

Salah satu alasan utama pemerintah AS mendorong akuisisi TikTok adalah, kekhawatiran terkait keamanan data.

Ilustrasi TikTok.

Ada dugaan bahwa ByteDance memiliki hubungan erat dengan pemerintah Tiongkok, sehingga data pengguna TikTok di AS bisa saja diakses pihak yang tidak bertanggung jawab.

Microsoft, di sisi lain, dikenal memiliki sistem keamanan data yang andal.

Baca Juga: Trump Bersikap Terbuka pada Kemungkinan Elon Musk Ambil Alih TikTok

Jika perusahaan ini berhasil mengambil alih TikTok, banyak pihak percaya bahwa isu keamanan yang selama ini menjadi kekhawatiran dapat teratasi.

Masa Depan TikTok di Tengah Negosiasi

Baca Juga: Berkat Donald Trump, TikTok di AS Kembali Beroperasi Secara Bertahap

TikTok tetap akan menjadi salah satu aplikasi paling diminati di dunia, meskipun terus menghadapi tekanan politik dan regulasi.

Jika Microsoft benar-benar berhasil mengakuisisi TikTok, ini akan menjadi langkah besar tidak hanya untuk platform tersebut, tetapi juga untuk Microsoft dalam memperkuat dominasinya di dunia teknologi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters, Gsmarena.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU