Google Wallet Kini Gunakan Riwayat Belanja (Sumber:digitaltrends.com)
INDOZONE.ID - Google kembali menghadirkan pembaruan besar untuk layanannya. Kali ini, giliran Google Wallet yang mendapatkan fitur baru bernama personalisasi berbasis riwayat belanja.
Fitur ini memungkinkan Google untuk menampilkan rekomendasi iklan dan penawaran yang lebih relevan dengan kebiasaanmu namun tenang, fitur ini sepenuhnya opsional dan bisa kamu nonaktifkan kapan saja.
Baca juga: Viral Pria Jalan Kaki Keliling Indonesia Demi Google Street View, Gajinya Bikin Kaget!
Melalui pembaruan yang mulai dirilis di wilayah Amerika Serikat, Google kini mengintegrasikan riwayat pembelian dan data dari kartu atau tiket digital yang tersimpan di Wallet, seperti:
Data tersebut kemudian digunakan untuk menampilkan rekomendasi dan penawaran yang sesuai dengan kebiasaan belanjamu di berbagai aplikasi Google — mulai dari promo belanja, rekomendasi aplikasi, hingga penawaran brand tertentu.
Namun, Google menegaskan bahwa fitur ini bisa dimatikan kapan saja melalui pengaturan akun.Artinya, kamu tetap punya kendali penuh atas data yang digunakan.
Langkah ini menunjukkan bagaimana Google terus menghubungkan ekosistem layanannya, dari pembayaran digital hingga rekomendasi konten.
Dengan memanfaatkan informasi yang sudah kamu simpan di Google Wallet, perusahaan ingin membuat pengalamanmu lebih lancar, personal, dan efisien.
Selain itu, fitur ini bertujuan untuk membuat Wallet lebih dari sekadar alat pembayaran, tetapi juga sebagai platform yang bisa menyediakan penawaran yang benar-benar relevan dengan kebutuhan kamu.
Google juga menegaskan bahwa: Mereka tidak menjual data pengguna ke pihak ketiga dan kamu bisa mengatur sejauh mana personalisasi dilakukan lewat menu pengaturan privasi.
Bagi sebagian orang, pembaruan ini bisa terasa menarik karena membuat hidup digital jadi lebih efisien. Bayangkan, kamu bisa mendapatkan penawaran diskon, rekomendasi aplikasi, atau promo brand yang sesuai dengan barang yang memang kamu beli atau gunakan.
Namun, bagi kamu yang menjunjung tinggi privasi, fitur ini juga bisa menjadi perhatian. Jika kamu tidak ingin aktivitas belanjamu dianalisis oleh Google, fitur personalisasi bisa langsung dimatikan agar data tetap aman dan tidak digunakan untuk keperluan iklan.
Dari sisi bisnis, pembaruan ini juga membuka peluang baru bagi brand dan merchant untuk menjangkau audiens yang lebih relevan dengan minat belanja mereka.
Meskipun begitu, muncul juga kekhawatiran soal seberapa luas Google akan memanfaatkan data pembelian ini di masa depan — sesuatu yang masih perlu diawasi oleh pengguna.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Digitaltrends.com