Senin, 02 MARET 2026 • 12:05 WIB

Klaim Besar Teknologi AI yang Konon 'Selamatkan Bumi' Ternyata Minim Bukti

Author

Ilustrasi artificial inteligence. (Freepik/Iuriimotov)

INDOZONE.ID - Raksasa teknologi ramai-ramai menjanjikan bahwa kecerdasan buatan (AI) generatif akan menjadi penyelamat planet dari krisis iklim. 

Namun, sebuah laporan terbaru mengungkap bahwa klaim-klaim besar tersebut seringkali tidak didukung oleh bukti yang kuat, bahkan banyak yang hanya berdasarkan asumsi tanpa data jelas.

Kisah ini bermula ketika Ketan Joshi, seorang peneliti energi, membaca statistik mencolok dari Google pada akhir 2023. 

Google mengklaim bahwa AI dapat membantu memangkas emisi gas rumah kaca global sebesar 5 hingga 10 persen pada tahun 2030—angka yang setara dengan total emisi tahunan Uni Eropa. 

Joshi terkejut dan memutuskan menelusuri asal-usul angka fantastis itu.

Baca juga: Manusia Ketar-Ketir: Era ASI “Dewa” AI Sudah Dekat

Hasil penelusurainya? Angka tersebut ternyata bersumber dari makalah yang dibuat Google bersama konsultan BCG. 

Makalah itu merujuk pada analisis BCG tahun 2021 yang hanya mendasarkan estimasi pengurangan emisi besar-besaran dari AI pada "pengalaman dengan klien" perusahaan—sebuah sumber yang oleh Joshi disebut sebagai "rapuh" (flimsy). 

Ironisnya, analisis itu dibuat setahun sebelum ChatGPT meledak dan memicu perlombaan infrastruktur AI yang sangat boros energi.

Meski dalam laporan keberlanjutannya tahun 2023 Google mengakui bahwa pembangunan AI justru meningkatkan emisi perusahaan, mereka tetap mempromosikan angka dari BCG tersebut. 

Google membela metodologinya dengan alasan transparan, namun tidak menjelaskan secara rinci bagaimana standar itu diterapkan pada angka kontroversial tersebut.

Baca juga: Studi: Saran Kesehatan dari Chatbot AI Sering Tidak Akurat dan Berisiko

Hanya Seperempat Klaim yang Punya Landasan Akademis

Temuan Google ini hanyalah satu dari sekian banyak contoh. 

Joshi kemudian merilis laporan baru yang didukung sejumlah organisasi lingkungan, menganalisis lebih dari 150 klaim dari perusahaan teknologi, asosiasi energi, dan pihak lain tentang bagaimana AI akan memberi manfaat iklim.

Hasilnya mengejutkan:

  • Hanya seperempat (25%) dari klaim tersebut yang didukung oleh riset akademis.
  • Lebih dari sepertiganya (33%) bahkan tidak mencantumkan bukti apa pun secara terbuka.

Baca juga: Indonesia–India Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis dan Teknologi AI

Jon Koomey, peneliti energi dan teknologi, mengingatkan agar tidak menerima begitu saja klaim yang sarat kepentingan diri. 

"Penting untuk tidak menerima klaim yang sarat kepentingan diri begitu saja. Mungkin ada yang benar, tapi kita harus sangat berhati-hati. Banyak orang membuat pernyataan tanpa dukungan kuat," ujarnya.

Dua Jenis AI yang Sering Disamarkan

Laporan Joshi juga mengungkap taktik lain: menyamarkan jenis AI. 

Banyak klaim tentang AI untuk iklim sebenarnya merujuk pada machine learning tradisional yang sudah puluhan tahun digunakan di berbagai disiplin ilmu dan jauh lebih hemat energi. 

Namun, narasi yang dibangun perusahaan mengarah pada AI generatif berskala besar (seperti ChatGPT, Gemini) yang justru sangat boros listrik karena membutuhkan daya komputasi raksasa.

Baca juga: 6 AI Terbaik Selain ChatGPT di Tahun 2026, Lengkap dengan Fitur Unggulannya!

Para ahli menegaskan ada ketidaksesuaian antara teknologi yang dikerjakan Big Tech dan teknologi yang benar-benar memberikan manfaat iklim saat ini. 

Contohnya, algoritma untuk prediksi banjir yang efektif sering digunakan sebagai "etalase" kebaikan AI, padahal algoritma itu berbeda jenis dengan chatbot konsumer yang haus energi. 

Sasha Luccioni, peneliti AI dan keberlanjutan, menyebut narasi "model AI besar tak terbatas" hanyalah upaya menjual ide bahwa hanya masa depan itulah yang mungkin, padahal banyak model kecil dan efisien yang bisa dijalankan dengan biaya dan dampak lingkungan jauh lebih rendah.

Solusi: Transparansi atau Sekadar Janji?

Para ahli sepakat bahwa masalah utama adalah minimnya informasi dasar untuk mengukur dampak AI terhadap iklim. 

Publik masih bekerja dengan perkiraan kasar tentang konsumsi energi AI di pusat data. 

Baca juga: OpenAI Siapkan Anggaran Rp9.000 Triliun demi Kuasai Komputasi AI Hingga 2030

Hanya Google yang mulai merilis estimasi energi untuk setiap perintah AI tahun lalu, sementara perusahaan lain masih tertinggal atau merahasiakan data lingkungan model mereka.

Joshi menawarkan solusi sederhana: perusahaan pendorong pengembangan AI harus mengungkapkan lebih banyak tentang biaya iklimnya. 

"Jika mereka khawatir orang melebih-lebihkan dampak iklim AI generatif, seharusnya tidak ada yang menghentikan mereka untuk berkata, 'Baiklah, pertumbuhan energi kami tahun ini enam terawatt-jam, dan dua di antaranya untuk AI generatif'," katanya. 

Informasi seperti itulah yang didorong untuk lebih banyak diungkapkan, dan itu akan menjadi hal yang sangat baik bagi semua pihak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wired.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU