Senin, 20 OKTOBER 2025 • 15:00 WIB

Rahasia Doubao Ngalahin DeepSeek: AI yang Bikin Pengguna Betah Ngobrol

Author

Gemini vs Copilot(Sumber:digitaltrends.com)

INDOZONE.ID - ByteDance lagi-lagi menunjukkan bahwa mereka bukan cuma jago bikin aplikasi viral, tapi juga paham betul perilaku pengguna. Setelah sempat tersingkir dari sorotan gara-gara kemunculan DeepSeek di awal tahun, kini Doubao AI chatbot buatan ByteDance kembali merebut posisi puncak sebagai aplikasi AI paling populer di China.

Menurut data dari QuestMobile, pengguna aktif bulanan Doubao menembus lebih dari 157 juta pada Agustus, mengalahkan DeepSeek yang berada di angka 143 juta. Bahkan secara global, Doubao juga berhasil menempati posisi keempat aplikasi AI paling populer setelah ChatGPT dan Google Gemini.

Padahal, Doubao bukanlah AI dengan kemampuan paling canggih di dunia. Namun, ByteDance memahami satu hal penting: yang membuat orang betah bukan sekadar seberapa pintar AI-nya, melainkan seberapa nyaman dan menyenangkan pengalaman menggunakannya. Doubao dirancang agar terasa “hangat” dan akrab. Dari logonya saja sudah berbeda, bukan sekadar ikon minimalis seperti chatbot pada umumnya, melainkan karakter perempuan lucu berambut bob yang menyapa pengguna di awal. Namanya sendiri berarti “roti isi kacang merah”, terdengar imut dan dekat, seperti panggilan sayang untuk teman sendiri.

Baca juga: California Resmi Terapkan UU Baru untuk Atur AI Chatbot: Wajib Ramah dan Aman bagi Pengguna

Perbedaan Doubao dengan chatbot lain seperti ChatGPT cukup terasa. Jika ChatGPT lebih seperti alat kerja yang dibuka untuk menyelesaikan tugas lalu ditutup kembali, Doubao justru dibuat agar pengguna betah berinteraksi lebih lama. Desain aplikasinya berwarna, fiturnya beragam, dan tampilannya tidak membosankan. Tak heran banyak yang menyebut Doubao terasa lebih “hidup”.

ByteDance juga memberikan Doubao kemampuan serba bisa. Aplikasinya dapat digunakan untuk chat teks, audio, dan video; membuat gambar, spreadsheet, presentasi, bahkan video pendek. Pengguna juga bisa membuat agen AI sendiri untuk keperluan tertentu dan membagikannya kepada pengguna lain. Lebih menarik lagi, Doubao terhubung langsung dengan Douyin, sehingga pengguna dapat berpindah antarplatform dengan mudah, bahkan mengirim lalu lintas balik ke Douyin.

Strategi ByteDance ini terbukti tepat untuk pasar China. Dalam waktu dua tahun sejak dirilis, Doubao telah menjadi aplikasi AI yang benar-benar digunakan masyarakat umum, terutama mereka yang tidak terlalu paham teknologi. Banyak pengguna awalnya justru dari kalangan yang lebih tua, seperti ibu-ibu dan nenek-nenek yang lebih nyaman berbicara lewat suara atau video daripada mengetik teks panjang.

Dibandingkan DeepSeek yang masih berfokus pada percakapan teks dan analisis logika, Doubao jauh lebih “ramai”. Ia memiliki fitur visual yang jelas, panduan berbasis skenario, serta fungsi multimodal yang membuat siapa pun bisa langsung mengerti cara menggunakannya tanpa harus memahami teknis AI.

Selain itu, Doubao juga dirancang agar mudah viral. ByteDance sangat paham cara membuat orang ingin membagikan konten di media sosial. Pengguna Douyin bisa menyebut Doubao di kolom komentar dan meminta chatbot itu merangkum isi video, sementara Doubao sendiri dapat menyarankan video Douyin di tengah percakapan tanpa perlu berpindah aplikasi. Kombinasi antara kemudahan dan efek “dopamin” ini membuat Doubao cepat menyebar di kalangan pengguna muda.

Hasilnya, gambar dan video buatan Doubao kini berseliweran di media sosial China, lengkap dengan watermark khasnya di pojok bawah. Misalnya, ada pengguna yang bertanya bagaimana cara mengisi ruang kosong di kamarnya, lalu kolom komentarnya dipenuhi hasil desain interior buatan Doubao, mulai dari ide realistis seperti rak dinding, hingga yang lucu seperti membuka kedai boba di kamar.

Tidak hanya itu, para influencer juga ikut menggunakan Doubao untuk membuat konten. Dengan fitur text-to-speech dan lebih dari 20 dialek regional, mereka bisa menciptakan karakter suara unik sesuai gaya komedinya masing-masing. Banyak video viral muncul dari percakapan antara pengguna dan Doubao yang berbicara menggunakan logat tertentu, menciptakan tren baru di dunia konten suara.

Kesuksesan Doubao sebenarnya tidak lepas dari DNA ByteDance sendiri. Perusahaan ini sudah lama dikenal sebagai “pabrik aplikasi” yang tahu betul bagaimana membuat produk cepat viral. Mereka memiliki sistem pengembangan yang gesit, senang bereksperimen, dan lihai mengarahkan lalu lintas antaraplikasi di dalam ekosistemnya.

Baca juga: Walmart Gandeng ChatGPT, Belanja Kini Bisa Lewat Percakapan Interaktif

Sementara itu, DeepSeek masih berjuang menyesuaikan diri. Meski model AI-nya diakui hebat dalam perhitungan dan logika, pengalaman penggunanya terbilang kaku dan minim fitur tambahan. Server-nya pun sempat kewalahan karena lonjakan pengguna. Akibatnya, banyak yang akhirnya pindah ke Doubao. Data QuestMobile bahkan menyebut sekitar 40 persen pengguna yang meninggalkan DeepSeek langsung beralih ke Doubao.

Kini, ByteDance tengah memperluas jangkauan Doubao ke berbagai perangkat lain. Mereka dikabarkan bekerja sama dengan produsen kacamata pintar, pabrikan mobil (termasuk Tesla), dan perusahaan perangkat lain untuk mengintegrasikan Doubao sebagai asisten virtual di mobil maupun gadget wearable. Jika berhasil, Doubao bisa menjadi asisten AI yang tidak hanya hidup di ponsel, tapi juga menemani pengguna di mana pun.

Dengan strategi yang memadukan kecerdasan buatan dan sentuhan manusia, Doubao berhasil membuktikan satu hal: di dunia AI yang makin kompetitif, kadang yang paling disukai bukan yang paling pintar, tapi yang paling mudah diajak ngobrol.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wired.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU