Rabu, 27 AGUSTUS 2025 • 20:45 WIB

Makin Populer, Chatbot AI Diam-Diam Berbahaya untuk Kesehatan

Author

Chatbot COVID-19.GO.ID (photo/INDOZONE/Ferry)

INDOZONE.ID - Beberapa tahun terakhir, kita diakrabkan dengan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI), seperti ChatGPT dan Replika yang semakin populer. Masyarakat menggunakannya bukan hanya untuk menjelajahi informasi umum, tetapi juga untuk urusan yang cukup serius, seperti kesehatan fisik maupun mental. Fenomena ini terlihat wajar karena chatbot mudah diakses kapan saja tanpa harus membayar mahal atau menunggu lama. Banyak orang, terutama remaja, menggunakan chatbot ini untuk bertanya soal kesehatan atau masalah mental, seperti stres, kecemasan, bahkan pikiran bunuh diri.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa chatbot tidak boleh dijadikan sumber utama untuk mendapatkan nasihat medis atau kesehatan mental. Konsultasi dengan tenaga kesehatan manusia tetap jauh lebih aman dan dapat dipercaya.

Baca juga: Hati-hati! Chatbot AI Bisa Ngasih Kalian Informasi Kesehatan yang Salah Tapi Meyakinkan

Peringatan itu nyatanya bukan tanpa alasan. Beberapa kasus membuktikan bahayanya mempercayai chatbot secara langsung. Terdapat kasus pria berusia 60 tahun yang dilaporkan keracunan dan mengalami gangguan jiwa akibat mengikuti saran ChatGPT yang keliru. Hal ini dikarenakan chatbot tersebut menyarankan untuk mengganti garam dapur dengan bahan kimia beracun yang sebenarnya digunakan dalam pengolahan limbah.

Unggahan Sam Altman yang mengejek chatbot AI milik Elon Musk. (X/@sama)

Selain itu, chatbot juga pernah memberikan saran tentang narkoba, alkohol, hingga bunuh diri kepada remaja yang seharusnya tidak diperbolehkan. Hal ini terjadi karena chatbot terkadang “berhalusinasi”, yakni menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan, padahal sebenarnya salah.

Risikonya tidak berhenti di situ. Chatbot tidak memiliki akses terhadap riwayat medis sehingga jawabannya tidak sesuai dengan kondisi pribadi pengguna.

Baca juga: OpenAI Rilis GPT-5 di ChatGPT, Ngasih Jawaban Makin Mirip Manusia

Oleh karena itu, penggunaan chatbot harus bijak. Chatbot dapat berperan sebagai teman dalam memperoleh informasi umum, namun tidak bisa menggantikan peran dokter atau psikolog. Jika ada orang terdekat yang sering menggunakan chatbot untuk masalah kesehatan mental, ajaklah mereka berbicara secara santai agar lebih mengenal cara kerja teknologi AI. Perlindungan paling aman tetap berasal dari penerapan regulasi yang ketat supaya teknologi ini tidak membahayakan masyarakat.

Pada akhirnya, chatbot memang bisa membantu, tetapi tidak akan pernah bisa menggantikan keahlian, pengalaman, dan empati tenaga kesehatan manusia. Untuk urusan medis maupun kesehatan mental, konsultasi dengan dokter dan terapis tetap yang utama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: PBS News

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU