INDOZONE.ID - Kehadiran GPT-5 membuat teknologi AI semakin populer dan banyak digunakan di berbagai sektor.
Namun, salah satu kritik terbesar yang selalu muncul adalah tingginya konsumsi energi dan air untuk menjalankan pusat data.
Beberapa studi bahkan menyebut GPT-5 menghabiskan listrik setara dengan pasokan energi untuk 1,5 juta rumah setiap hari. Meski begitu, laporan terbaru menunjukkan kabar yang lebih positif.
Hasil survei dari Badan Lingkungan Hidup Inggris bersama techUK terhadap 73 pusat data di Inggris mengungkap bahwa banyak fasilitas justru jauh lebih efisien dari perkiraan.
Baca juga: Banyak Pengguna GPT-5 Gak Puas, Disebut Lebih Kaku dan Boring
Fakta Mengejutkan dari Survei Pusat Data
- 51% pusat data sudah menggunakan sistem pendingin tanpa air.
- 64% pusat data hanya membutuhkan kurang dari 10.000 m³ air per tahun, lebih sedikit daripada rata-rata sebuah pusat rekreasi.
- 89% pusat data rutin memantau penggunaan air demi memastikan efisiensi sekaligus ramah lingkungan.
Temuan ini mematahkan anggapan bahwa pusat data AI selalu menjadi penyumbang besar pemborosan air.
Richard Thompson, Wakil Direktur Sumber Daya Air di Badan Lingkungan Hidup Inggris, mengatakan bahwa hasil ini membuktikan pusat data mulai mengutamakan keberlanjutan.
Konsumsi Listrik Masih Jadi Tantangan
Walaupun penggunaan air lebih rendah dari perkiraan, kebutuhan listrik tetap menjadi masalah utama. Menurut data dari Berkeley Lab, konsumsi energi meningkat seiring dengan melonjaknya penggunaan asisten AI.
Sam Altman, CEO OpenAI, pernah menyebut bahwa rata-rata satu kueri GPT-5 membutuhkan sekitar 0,34 watt-jam energi, setara dengan lampu LED yang menyala selama dua menit.
Sementara itu, Google mencatat bahwa kueri Gemini menggunakan rata-rata 0,10 watt-jam energi dan 0,12 mL air. Meski jumlahnya tampak kecil, jika dikalikan dengan jutaan kueri per hari, dampaknya sangat signifikan.
Upaya Mengurangi Jejak Karbon AI
Google melaporkan bahwa dalam 12 bulan terakhir, jejak karbon dari aplikasi Gemini turun drastis hingga 44 kali lipat. Hal ini dicapai berkat inovasi seperti teknik decoding spekulatif yang mampu mengurangi beban kerja komputasi.
Selain itu, perusahaan teknologi kini mulai mengadopsi strategi keberlanjutan “full-stack” untuk mengoptimalkan kinerja, menekan konsumsi energi, serta menghindari risiko pemadaman listrik saat jam sibuk.
Tantangan AI di Masa Depan
Meskipun sudah ada perbaikan dalam efisiensi, konsumsi energi AI masih diprediksi akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna.
Survei terbaru bahkan menunjukkan bahwa 61% masyarakat khawatir dengan biaya energi akibat penggunaan AI.
Seperti halnya komputer yang dulu berukuran sebesar ruangan namun kini bisa masuk ke saku, teknologi AI juga perlu berevolusi menjadi lebih efisien.
Dunia tidak mungkin menghentikan perkembangan AI, tetapi langkah paling penting adalah membuatnya ramah lingkungan dan hemat energi.
Baca juga: Uji Coba GPT-5: Benarkah Lebih Baik dari Generasi Sebelumnya?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Digitaltrends.com