Senin, 07 JULI 2025 • 15:56 WIB

Hasil Penelitian Mengungkapkan ChatGPT Bisa Melemahkan Kemampuan Berpikir Kritis

Author

Ilustrasi ChatGPT. (REUTERS/Dado Ruvic)

INDOZONE.ID  - Sebuah hasil studi atau penelitian terbaru dari MIT Media di Amerika Serikat mengungpkan bahwa penggunaan ChatGPT berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis, terutama pada otak yang masih berkembang seperti anak dan remaja.

Penelitian ini melibatkan 54 responden dengan rentan usia 18-39 tahun yang dibagi dalam tiga kelompok yakni satu menulis esai dengan bantuan ChatGPT, satu dengan Google Search, dan satu lagi tanpa bantuan teknologi sama sekali.

Baca juga: Bos Ford Peringatkan AI Bisa Gantikan Separuh Pekerja Kantoran

Hasilnya cukup mengejutkan dimana kelompok pengguna ChatGPT menunjukkan aktivitas otak paling rendah dan kian malas seiring waktu dan mereka cenderung langsung menyalin jawaban dari AI.

Beberapa hal yang ditemukan dari penelitian tersebut:

  • Kelompok ChatGPT menghasilkan esai yang mirip satu sama lain, miskin ide orisinal, dan dinilai “hambar” oleh guru bahasa Inggris.
  • Pemindaian EEG menunjukkan aktivitas otak mereka paling lemah, terutama pada bagian yang berhubungan dengan kreativitas, ingatan, dan konsentrasi.
  • Sebaliknya, kelompok yang menulis dengan otak sendiri menunjukkan aktivitas otak paling aktif, kreatif, dan merasa lebih puas dengan hasil tulisannya.

Baca juga: Uni Eropa Tegas Menerapkan Aturan Baru Penggunaan AI, Google dan Meta Harap Ada Penundaan

Nataliya Kosmyna, peneliti utama studi ini, mengungkapkan kewatirannya jika AI digunakan secara luas di pendidikan anak-anak, misalnya ide “GPT untuk TK”. 

“Otak yang sedang berkembang paling berisiko. Kalau ketergantungan ini dibiarkan, anak-anak akan kesulitan membangun kemampuan berpikir kritis dan ingatan yang kuat,” katanya seperti dilansir dari podcast di kanal Al Jazeera, Senin (7/7/2025).

Meski demikian, ada hal menarik dari studi ini yang ditemukan dimana jika AI digunakan setelah berpikir sendiri terlebih dahulu, otak justru bisa terlatih lebih baik. 

“Tapi kalau dari awal hanya mengandalkan AI, otak menjadi pasif dan tidak menyerap pengetahuan,” unjarnya.

Sementara itu Psikiater Anak Dr Zishan Khan menegaskan temuannya di lapangan terdapat banyak anak yang sudah bergantung pada AI untuk tugas sekolahnya.

Tentunya hal ini membaut anak-anak sangat rentan kehilangan kemampuan mengingat, mengolah informasi, dan berpikir kreatif.

“AI seperti ChatGPT sangat membantu, tapi jangan biarkan kita atau anak-anak hanya jadi penonton yang menyalin jawaban. Gunakan otak kita lebih dulu, baru minta bantuan AI — agar kemampuan berpikir kritis tetap tajam,” tegasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Al Jazeera

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU