Sabtu, 28 JUNI 2025 • 16:05 WIB

Menghidupkan Kembali Orang yang Sudah Wafat dengan AI: Fenomena Replikasi Manusia ke Bentuk Digital

Author

Ilustrasi AI Images. (Freepik/Acidj)

INDOZONE.ID - Coba bayangkan seseorang yang telah tiada tapi tetap bisa mengobrol, bercanda, bahkan memberikan nasihat. Kamu meungkin mendengarnya seperti potongan fiksi ilmiah. 

Namun, ke depannya komunikasi semacam itu bisa jadi kenyataan. Dunia digital kini perlahan membuka jalan menuju sesuatu yang dulu tabu: menghidupkan kembali kehadiran manusia lewat kecerdasan buatan. 

Bukan dalam bentuk fisik, tapi lewat suara, gaya bicara, dan respons yang begitu menyerupai, hingga terasa seolah dia tak pernah pergi.

Beberapa startup teknologi di AS, Korea, hingga Eropa mulai menyiapkan platform “digital afterlife”. Profil, suara, dan perilaku seseorang semasa hidup direkam sedetail mungkin.

Baca juga: Peak, Game Panjat Gunung Super Gemas yang Tembus 1 Juta Kopi

Rekaman data tersebut disimpan sebagai "AI clone" yang bisa berinteraksi setelah kematiannya. Bayangkan, seorang ibu yang sudah wafat bisa tetap menemani anaknya tidur, menjawab pertanyaan lewat suara khasnya, atau bahkan menyanyikan lagu favorit. 

Semua dengan bantuan data, algoritma, dan rekaman yang sebelumnya dikumpulkan semasa hidup. Batasan antara kenangan dan kenyataan makin kabur. 

Dan dari situlah letupan emosional terjadi. Ada yang menganggapnya penghiburan; ada pula yang menyebut ini bentuk eksploitasi rasa duka. 

Namun satu hal yang pasti: tren ini sedang meletup. Perusahaan seperti HereAfter AI serta Replika menjadi pionir dalam gelombang "immortal tech" ini.

Baca juga: Build a Rocket Boy Umumkan PHK Usai MindsEye Gagal di Pasaran

Kehadiran AI yang mampu meniru hingga 90% pola komunikasi manusia membuat pengalaman “berinteraksi” dengan yang telah tiada terasa begitu nyata. 

Beberapa keluarga di Amerika bahkan mulai rutin berbicara dengan AI versi orang tercinta yang telah meninggal. 

Mereka seakan melanjutkan hubungan yang tak bisa diputus oleh maut. Namun sisi gelapnya pun tak kalah mengintai. 

Ketergantungan emosional terhadap versi digital ini berpotensi menunda proses penyembuhan dari kehilangan.

Baca juga: Rilis Musim Panas: The House of the Dead 2 Remake Hadir di PC & Switch

Tanpa disadari, dunia sedang menggeser batas etika. Apakah hak manusia hanya berlaku saat hidup? Apakah suara dan emosi seseorang bisa digunakan setelah ia pergi? 

Isu privasi, hukum warisan digital, hingga konflik keluarga pun bisa muncul ketika versi digital seseorang menjadi alat pengambilan keputusan.

Tren ini tak sekadar soal teknologi, tapi soal eksistensi. Topiknya berkutat seputar bagaimana manusia menghadapi kehilangan, dan bagaimana teknologi mencoba menenangkannya, meski dengan cara yang belum tentu sepenuhnya benar. 

Satu hal yang jelas: realitas dan digital kini hanya dipisahkan oleh batas tipis bernama waktu dan AI tampaknya sedang berusaha menghapus batas itu selamanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Empirics.asia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU