Country Director Meta di Indonesia, Pieter Lydian (Indozone/Rifqy Alief Abiyya)
INDOZONE.ID - Perusahaan raksasa teknologi Meta mengungkap perkembangan terbarunya dalam penggunaan Artificial Intelligence (AI) di berbagai platformnya.
Country Director Meta di Indonesia, Pieter Lydian, menyebut bahwa penggunaan AI saat ini menjadi fokus utama untuk perkuat layanan di berbagai platform. Ia mengungkapkan bahwa saat ini sudah mencapai 3,4 miliar pengguna Meta AI.
Pieter juga menyebut bahwa sebenarnya AI ini masih ada di fase awal, tapi hasilnya sudah mulai terlihat. Secara algoritma, pemanfaatan AI ini bisa meningkatkan performa secara signifikan.
“Kan kita sudah menunjukkan produk-produk untuk iklan yang berbasis AI. Nah, antara mereka pakai atau nggak pakai, kalau setiap 1 dolar yang saya spend, saya taruh 1 dolar, dapatnya 3,47, oke banget dong,” jelasnya di Jakarta.
Baca juga: Laptop Tecno Megabook S14: Harga Rp13 Jutaan, Layar 14 Inci, Berat di Bawah 1 Kg
Pada awalnya, AI hanya bisa menghasilkan sebuah tulisan. Berbeda dengan sekarang, yang sudah berkembang bahkan bisa membuat gambar hanya dari sebuah prompt.
Hal ini sejalan dengan penggunaan AI dalam membuat sebuah iklan. Proses kreatif untuk iklan biasanya lama, apalagi jika dibuat dalam jumlah banyak.
Pieter mencontohkan salah satunya yaitu membuat background dalam gambar yang ingin diiklankan. Ia menyebut, dengan AI ini bisa merubah background tersebut dengan lebih cepat tanpa harus manual satu per satu.
Dalam pembuatan iklan Meta pun akan lebih mudah membuat pengaturan nya. Dengan AI, setting iklan akan lebih mudah dan pastinya bisa mendapatkan hasil yang lebih optimal.
Baca juga: Trump Akhirnya Setujui Nvidia Jual Chip H200 ke Cina, Apa Dampaknya untuk Teknologi AI?
Pieter menegaskan bahwa perkembangan AI ini harus dirasakan dan dimiliki oleh semua orang, bukan cuma Meta saja. Terdapat prinsip yang mesti dilakukan dalam pengembangan AI nya.
“Yang pertama adalah, yang saya mau tunjukkan, most severe risk. Risk yang paling berbahaya, ini mesti dijaga. The principle untuk menjaga risiko. Yang kedua adalah, privacy, of course, privacy, ini paling top di atas,” jelasnya.
“Yang ketiga, transparansi dan control. Kalau dilihat di AI, mau nggak kita aktifkan atau enggak, transparansi dan kontrol itu mesti ada. Jangan sampai masuk black box,” sambung Pieter.
Selanjutnya yang keempat ada clear lines of accountability, dimana ada orang yang bertanggung jawab jika terjadi sebuah masalah. Selain itu, ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi harus bisa diakses semua orang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan, Press Release