Simpanse Bermasker di Kongo (Sumber: snopes.com)
INDOZONE.ID - Beberapa waktu lalu, media sosial sempat dihebohkan oleh gambar yang disebut-sebut menunjukkan sekelompok simpanse bermasker sedang berkeliaran di hutan Kongo dan bahkan “merampok pasar.” Gambar itu tampak seperti hasil tangkapan kamera pengintai di tengah hutan gelap, agak buram, dan terlihat sangat realistis pada pandangan pertama.
Dalam keterangannya, disebutkan bahwa para simpanse ini mulai memakai “topeng dari daun dan kain bekas” agar tidak dikenali, setelah salah satu dari mereka ditangkap karena sering mencuri makanan. Netizen pun langsung ramai membahasnya. Ada yang ngeri, ada yang tertawa, tapi banyak juga yang percaya bahwa hal itu benar-benar terjadi. Masalahnya, semua itu ternyata hanya tipuan digital.
Unggahan pertama yang memunculkan gambar ini berasal dari sebuah halaman Facebook bernama StoryTime. Jika dilihat sekilas, halaman tersebut memang dipenuhi gambar-gambar aneh dan cerita yang “terlalu bagus untuk jadi nyata.” Bahkan di bio-nya tertulis jelas: “story (noun) – an account of imaginary or real people and events told for entertainment.” Artinya, kontennya memang dibuat untuk hiburan, bukan berita sungguhan.
Dari situ, gambar simpanse bermasker ini mulai menyebar ke berbagai platform lain, termasuk X (dulu Twitter). Banyak akun yang mengunggah ulang tanpa mengecek sumbernya terlebih dahulu. Dari sinilah muncul berbagai kisah “saksi mata” dan “peneliti yang terkejut,” padahal tidak ada satu pun bukti nyata yang dapat dipertanggungjawabkan.
Baca juga: Cara Membuat Video AI Sinematik dengan Veo 3 di Gemini, Gampang Banget!
Beberapa pemeriksa fakta kemudian mencoba melacak gambar tersebut melalui reverse image search (menggunakan RevEye dan Google Lens). Hasilnya? Nihil. Tidak ada satu pun foto serupa yang pernah muncul di internet sebelum unggahan StoryTime. Artinya, foto tersebut kemungkinan besar merupakan hasil rekayasa digital, bukan tangkapan kamera pengintai di hutan.
Jika diperhatikan lebih saksama, keanehan lain juga tampak jelas. Misalnya, posisi kaki simpanse yang aneh, ada yang tampak memiliki dua pasang kaki belakang atau jari tangan dengan jumlah yang salah. Hal-hal kecil semacam ini sering muncul pada gambar hasil AI-generated, karena sistemnya belum mampu meniru anatomi hewan secara sempurna.
Selain itu, ada pula tulisan file di bawah gambar yang tampak seperti kode kamera, namun sebenarnya acak dan tidak masuk akal, kesalahan umum yang sering muncul jika teksnya dihasilkan oleh AI. Jadi, jika kamu merasa ada yang “aneh” saat melihat fotonya, itu bukan sekadar perasaanmu. Memang begitu adanya.
Setelah ditelusuri lebih jauh, tidak ada satu pun laporan resmi, penelitian, atau liputan dari media kredibel tentang simpanse yang memakai masker, apalagi sampai menyerang pasar di Kongo.
Padahal, jika hal semacam itu benar-benar terjadi, tentu akan menjadi berita besar di dunia sains dan konservasi. Bayangkan saja, hingga kini para peneliti masih terus mempelajari perilaku cerdas primata, dan belum pernah ada bukti bahwa mereka bisa “menyamar” dengan memakai topeng seperti manusia. Jadi, dapat dipastikan bahwa cerita ini 100 persen fiksi.
Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Gambar palsu yang tampak “realistis” sering kali viral karena dua alasan utama:
Ditambah lagi, banyak akun media sosial yang sengaja membuat konten semacam ini demi meningkatkan engagement like, share, dan komentar. Semakin viral, semakin tinggi interaksinya.
Baca juga: Cara Menggunakan Veo 3, AI Terbaru dari Google untuk Bikin Video dengan Suara Otomatis
Kisah simpanse bermasker ini menjadi contoh sempurna mengapa kita perlu double check sebelum mempercayai sesuatu yang viral. Dunia internet kini dipenuhi gambar hasil manipulasi AI yang terlihat nyata, padahal palsu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Snopes.com