Para lansia yang diajari bagaimana cara mengoperasikan iPhone di Apple Store. (Twitter/@layxsnv)
INDOZONE.ID - Pernah nggak dengar cerita orang tua yang tiba-tiba kehilangan uang karena ditipu? Entah lewat telepon, pesan WhatsApp, atau bahkan oleh orang yang mereka kenal sendiri. Awalnya cuma ngobrol biasa, lama-lama dimintai transfer, eh ujung-ujungnya malah zonk.
Kasus seperti ini ternyata banyak banget, lho, dan nggak cuma di Indonesia. Di Amerika saja, pada tahun 2021 tercatat lebih dari 90 ribu korban penipuan berusia di atas 65 tahun, dengan total kerugian mencapai 1,7 miliar dolar. Dan itu baru yang ketahuan, belum termasuk yang malu untuk mengaku.
Masalahnya, kalau yang kena anak muda, mungkin masih bisa kerja lagi untuk menutupi kerugian. Tapi buat orang tua yang sudah pensiun, kehilangan uang tabungan bisa berdampak besar banget bikin stres, kesehatan menurun, bahkan kehilangan rasa percaya diri. Jadi, wajar saja kalau para ahli psikologi mulai serius meneliti kenapa lansia lebih gampang tertipu dibanding generasi muda.
Baca juga: FBI Peringatkan Penipuan Kode QR dalam Paket Misterius, Jangan Asal Pindai!
Sebenarnya, penyebabnya bukan cuma karena “gaptek”. Ada banyak hal yang bikin orang tua lebih rentan terhadap tipu-tipu, dan nggak semuanya kelihatan jelas.
Pertama, faktor otak dan daya ingat. Seiring bertambahnya usia, kemampuan otak untuk memproses informasi dan membedakan mana yang benar atau bohong berkurang. Jadi, ketika ada pesan atau telepon yang terdengar logis, mereka cenderung percaya. Apalagi kalau si penipu berbicara dengan halus dan sopan makin susah dicurigai.
Kedua, suasana hati juga berpengaruh. Orang tua yang merasa kesepian atau butuh teman ngobrol cenderung lebih mudah terbuka pada orang baru. Kadang mereka cuma ingin ada yang mendengarkan, tapi malah dimanfaatkan. Di sisi lain, orang yang terlalu positif atau “percaya aja deh sama orang” juga bisa jadi sasaran empuk karena nggak berpikir untuk curiga duluan.
Ada juga faktor genetik dan kesehatan. Beberapa penelitian menyebut, orang yang berisiko Alzheimer atau mengalami penurunan kognitif lebih rentan tertipu karena bagian otak yang mengatur pengambilan keputusan sudah mulai melemah.
Ilustrasi Penipuan di WhatsApp (sumber: CyberPeace Foundation)
Nah, soal jenis penipuannya juga menarik. Ternyata beda generasi, beda juga “umpannya”.
Untuk orang tua, yang paling sering berhasil adalah penipuan model “balas budi”. Misalnya, ada yang memberi hadiah kecil dulu, atau bilang terima kasih karena sudah membantu sesuatu, baru kemudian minta bantuan balik entah dalam bentuk uang atau data pribadi. Karena orang tua terbiasa dengan sopan santun dan rasa terima kasih, mereka merasa nggak enak untuk menolak.
Ada juga penipuan yang menggunakan wajah ramah atau suara menenangkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang tua lebih mudah percaya pada orang yang terlihat atau terdengar “baik”, walaupun sebenarnya punya niat jahat. Bahkan setelah ketahuan berbohong pun, mereka tetap susah menganggap orang itu berbahaya.
Sementara anak muda lebih sering tertipu dengan trik yang memanfaatkan rasa panik atau kesempatan terbatas, seperti “promo cuma hari ini!” atau “kalau nggak diklik sekarang, akun kamu akan terhapus”. Kalau yang lebih tua, jebakannya justru ada pada rasa percaya dan empati.
Baca juga: WhatsApp Perkenalkan Fitur Keamanan Baru untuk Tangkal Penipuan Online
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: News.ufl.edu