Rabu, 09 OKTOBER 2024 • 19:24 WIB

Studi Baru Mengungkapkan 53% Gamer Lebih Suka Bermain Game Single-Player

Author

ilustrasi pemuda bermain games.

INDOZONE.ID - Sudah menjadi hal yang umum diketahui bahwa mayoritas pendapatan dari pasar game AAA saat ini berasal dari game-game dengan model bisnis live service, yang di mana game yang di update secara rutin dan mengimplementasikan sistem pembayaran dalam game seperti season/battle pass, microtransaction, hingga sistem subscription.

Yang selalu menawarkan berbagai macam konten seperti in-game currency, kosmetik dan semacamnya.

Hal ini membuat pasar game live service sangatlah kompetitif saat ini, dan sudah banyak game-game live service di luar sana yang sudah sangat populer dimainkan oleh banyak gamer dan sukses secara finansial.

Seperti Destiny, Fornite, Genshin Impact, GTA Online, Overwatch, dan masih banyak lagi. Meskipun peluang dalam sektor ini cukup besar dan bisa menguntungkan secara finansial bagi perusahaan, persaingan game live service saat ini sudah cukup ketat.

Baca Juga: Game Infinity Nikki Sedang Buka Tahap Closed Beta Bulan Ini

Mengingat sudah semakin banyak game-game live service yang berhasil menemukan puncak kesuksesannya, sehingga menjadi tantangan besar bagi pendatang baru yang ingin mencoba menyemplung ke dalam pasar live service dan bersaing dengan game-game live service lainnya.

Walaupun game live service cukup diminati dan banyak dimainkan, namun baru-baru ini terdapat temuan studi baru terkait sebagian besar dari gamer justru masih menyukai game-game single player, dan menjelaskan betapa sulitnya bagi game live service untuk berhasil penetrasi ke dalam industri game dibandingkan dengan game single player.

GTA Online. (photo/Dok. The Indian Express)

Studi ini berdasarkan pelitian yang dilakukan oleh MIDiA Research, yang menguraikan hasil penelitian mereka berdasarkan kelompok usia dan jenis game yang paling banyak dimainkan pada setiap generasi.

Di mana penelitian selama kuartal kedua 2023 menunjukkan, bahwa kelompok gamer pada rentang usia 25 hingga 55 tahun ke atas cenderung lebih menyukai game single player dibandingkan dengan game PVE, Couch Co-Op, atau Online PVP.

Baca Juga: Paradox Tinggalkan Vampire: The Masquerade dan Genre RPG, Bloodlines 3 Akan Dikembangkan oleh Studio Lain

Sehingga hasilnya menunjukkan sebagian besar 53% dari gamer secara keseluruhan lebih memilih bermain game single-player dibandingkan dengan game live service.

Hal ini dikarenakan gamer di rentang usia 25 keatas sudah memiliki kesibukan masing-masing, sehingga komitmen untuk bermain game live service dengan teman menjadi lebih sulit.

Studi ini terbukti bisa didukung oleh fakta bahwa game single-player terbaru seperti Elden Ring yang dirilis pada 25 Februari 2022 lalu, terbukti telah terjual hingga 25 juta kopi.

Lalu disusul oleh Black Myth: Wukong yang dirilis pada 19 Agustus 2024, tercatat telah terjual hingga 18 juta kopi. Dan baru-baru ini, Warhammer 40,000: Space Marine 2 yang baru saja dirilis padap 9 September 2024, telah terjual 2 juta kopi.

Studi MIDiA Research juga menjelaskan terkait alasan kebanyakan perusahaan game AAA saat ini sudah jarang, atau bahkan sudah tidak lagi tertarik untuk membuat game single-player.

Hal ini dikarenakan keinginan perusahaan game AAA dalam mengejar tren pasar game live service dan ingin sekali bersaing untuk meniru kesuksesan finansial dari Fortnite, League of Legends, Roblox, dan game-game live service lainnya.

Hal ini membuat kebanyakan developer game yang terkenal selalu membuat game-game single-player yang sukses di industri game, menjadi didorong untuk nyemplung ke dalam pasar live service.


Banner Z Creators.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Game Science

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU