INDOZONE.ID - Iklan Natal ikonik Coca-Cola, terutama versi tahun 1995 "Holidays Are Coming," dikenal sebagai simbol nostalgia bagi banyak orang.
Namun, versi terbaru yang dirilis perusahaan memicu kritik tajam dari penggemar, dengan banyak yang merasa kehilangan semangat Natal.
Iklan berdurasi 16 detik ini mempertahankan elemen klasik seperti soundtrack dan truk terang, tetapi ada sesuatu yang "aneh."
Ini adalah iklan pertama Coca-Cola yang sepenuhnya diciptakan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Javier Meza, Chief Marketing Officer Coca-Cola Eropa, menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan membawa "Holidays Are Coming" ke era modern.
Baca Juga: Microsoft Ungkap Rencana Merilis Xbox Handheld, Namun Masih Butuh Waktu Beberapa Tahun Lagi
“Kami ingin membawa iklan ini ke masa kini, dan AI menjadi solusi kami,” ujar Meza dalam wawancara dengan Marketing Week.
Namun, tanggapan publik justru negatif. Komentar pedas di media sosial dan YouTube mendeskripsikan iklan ini sebagai "tidak bermutu," "memalukan," dan "menyeramkan."
Salah satu pengguna bahkan menyebutnya “sama emosionalnya dengan pohon aluminium.”
Beberapa netizen juga membandingkan dengan karya penggemar lama.
"Orang-orang membuat ulang iklan ini di GTA San Andreas 14 tahun lalu, dan hasilnya tetap lebih autentik daripada versi ini," tulis pengguna di platform X/Twitter.
Kontroversi ini juga memicu pertanyaan lebih besar tentang tren industri.
Baca Juga: Kabar Buruk, Sony Akan Berhenti Memasok Adaptor PS VR untuk PS5
“Jika perusahaan bernilai miliaran dolar seperti Coca-Cola lebih memilih AI daripada menyewa artis dan aktor sungguhan, apa dampaknya bagi pasar lainnya?” tulis seorang pengguna.
Meski demikian, Jason Zada, pendiri salah satu studio AI yang bekerja sama dengan Coca-Cola, memuji efisiensi teknologi ini.
Ia menyoroti bahwa AI dapat mempercepat proses produksi hingga lima kali lipat dibanding metode tradisional.
Namun, reaksi keras dari penggemar menunjukkan bahwa efisiensi tidak selalu sebanding dengan keaslian.
Coca-Cola mungkin harus mengevaluasi kembali pendekatan mereka, atau mempertaruhkan kehilangan basis penggemar setia mereka ke pesaing seperti Pepsi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: X.com