INDOZONE.ID - Pasti teman-teman pernah mendengar tentang fenomena alam yang biasa disebut aurora. Cahaya aurora ini bergerak menari-nari di langit saat malam hari.
Penampilan cahaya aurora sangat menakjubkan dan menawan.
Cahaya yang terlihat tidak hanya satu warna, tetapi berbagai warna seperti merah, kuning, hijau, biru, dan ungu.
Fenomena alam ini biasanya terjadi di daerah kutub utara dan selatan bumi.
Aurora yang terjadi di kutub utara disebut aurora borealis.
Nama ini diambil dari dewi fajar dalam mitologi Romawi, yaitu Aurora, dan kata "Borealis" berasal dari bahasa Yunani yang berarti angin utara.
Sementara itu, aurora yang terjadi di kutub selatan disebut aurora australis.
Kata "australis" diambil dari benua Australia yang terletak di bagian selatan bumi.
Baca Juga: Misi Ambisius NASA: Pengin Bangun Stasiun Kereta Api di Bulan, Realita atau Angan-angan?
Meskipun aurora terlihat cantik dan menakjubkan, ternyata fenomena ini bisa menimbulkan efek badai matahari yang bisa membuat gangguan pada listrik dan navigasi.
Saat badai matahari terjadi belakangan ini, satelit yang dimiliki oleh SpaceX juga terdampak. Badai juga berdampak pada layanan internet Starlink.
Meskipun begitu, badai matahari yang cukup parah belakangan ini juga membawa efek positif, yaitu munculnya aurora di beberapa wilayah.
Badai matahari, juga dikenal sebagai badai geomagnetik, yang terjadi beberapa hari terakhir telah memberikan dampak yang cukup menakjubkan.
Pusat Prediksi Cuaca Luar Angkasa Amerika Serikat (AS), seperti yang dilaporkan oleh Bloomberg, menjelaskan bahwa badai ekstrem terjadi ketika energi dari matahari bertabrakan dengan medan magnet bumi.
Ambang batas tertinggi dalam skala lima skala pusat terjadi pada Jumat (10/5) pukul 18:54 waktu New York.
Menurut Badan Kelautan dan Atmosfer (NOAA) AS, kejadian serupa tercatat pada Oktober 2003.
Pada waktu itu, Badan Luar Angkasa AS mencatat bahwa badai tersebut menyebabkan pemadaman listrik di Swedia serta kerusakan pada trafo di Afrika Selatan.
Starlink, unit bisnis SpaceX, melaporkan dalam situsnya bahwa mereka telah merasakan dampak dari badai geomagnetik.
Starlink menyatakan bahwa mereka sedang mengalami gangguan layanan saat ini, dan sedang melakukan penyelidikan.
Sebelumnya, Elon Musk juga menyebut dalam pernyataan di akun Twitter miliknya bahwa satelit milik SpaceX merasakan dampak dari badai matahari.
Baca Juga: Tiongkok Memulai Misi Penting untuk Mengumpulkan Sampel Dari Bagian Tersembunyi Bulan
Namun, dia tidak memberikan keterangan lebih lanjut. Saat ini, SpaceX memiliki sekitar 7.500 satelit.
Shawn Dahl, seorang peramal cuaca luar angkasa AS, mengungkapkan bahwa badai matahari dapat mengubah arus listrik searah (DC) menjadi arus bolak-balik (AC), yang bisa mengakibatkan gangguan pada pasokan listrik.
Selain itu, badai magnet ini juga dapat menimbulkan gangguan pada rel kereta api atau jalur pipa akibat gelombang listrik rendah.
Fenomena alam yang dikenal dengan aurora ini dapat disaksikan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Aurora terlihat dalam semalam di banyak daerah di Asia, Eropa, dan Amerika Utara, termasuk di wilayah selatan seperti Alabama dan California.
Efek dari badai matahari mungkin akan terus dirasakan hingga akhir pekan dan bahkan minggu depan.
Penulis: Nadya Mayangsari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: X/@elonmusk