Kamis, 02 APRIL 2026 • 09:23 WIB

NASA Luncurkan Artemis II, Manusia Kembali ke Bulan Setelah Lebih dari 50 Tahun

Author

Roket artemis II (nasagov)

INDOZONE.ID - Setelah lebih dari setengah abad, sejak era Apollo program berakhir, manusia akhirnya kembali menapaki jalur menuju Bulan.

NASA resmi meluncurkan misi Artemis II dengan roket Space Launch System (SLS) dan kapsul Orion spacecraft pada Rabu (1/4/2026) pukul 18.35 waktu setempat atau Kamis (2/4/2026) pukul 05.35 WIB.

Peluncuran ini menjadi momen bersejarah karena menandai penerbangan berawak pertama NASA menuju Bulan sejak lebih dari 50 tahun lalu.

Bukan sekadar perjalanan biasa, Artemis II membawa misi besar dengan tujuan yang jelas. 

Lantas, seperti apa spesifikasi roketnya dan tujuan besar di balik misi ini?

Spesifikasi Roket dan Kapsul 

Peluncuran roket Artemis II. (REUTERS/Steve Nesius)

Perjalanan dimulai dari roket super berat bernama Space Launch System (SLS) yang jadi tulang punggung dalam misi ini.

Ukurannya benar-benar masif, yaitu tingginya mencapai sekitar 322 kaki dengan bobot lebih dari 5,7 juta pon saat terisi penuh bahan bakar.

Bahkan, kekuatannya sering dibandingkan dengan roket legendaris Saturn V yang dulu membawa manusia ke Bulan.

Baca juga: NASA dan Google Uji Dokter Luar Angkasa Berbasis AI untuk Misi Masa Depan

Setelah berhasil keluar dari atmosfer Bumi, para astronot akan berpindah ke kapsul Orion spacecraft.

Kapsul ini dirancang sebagai “rumah” mereka selama di luar angkasa, dengan ruang interior yang kira-kira sebesar dua mobil van.

Di sinilah seluruh perjalanan menuju Bulan akan berlangsung terjadi, mulai dari navigasi hingga sistem kehidupan yang menopang kru.

Daftar Awak Artemis II

Misi ini juga membawa tim astronot yang mencetak sejarah baru. Berikut empat awak yang akan terbang dalam kapsul Orion bernama Integrity:

  1. Reid Wiseman sebagai komandan
  2. Victor Glover sebagai pilot astronot  sekaligus berkulit hitam pertama yang menuju Bulan
  3. Christina Koch sebagai mission specialist dan wanita pertama yang terbang ke Bulan
  4. Jeremy Hansen sebagai mission specialist dan astronot Kanada pertama dalam misi lunar

Perjalanan 10 Hari: Terbang Lebih Jauh dari Misi Apollo

Penampakan dari dalam roket. (NASA TV/Handout via REUTERS)

Saat peluncuran, dua solid rocket booster akan menyala lebih dulu, menghasilkan lebih dari 75% tenaga dorong.

Ditambah empat mesin RS-25, total dorongannya mencapai 8,8 juta pon sehingga cukup untuk mengangkat roket raksasa ini meninggalkan Bumi.

Baca juga: Usai Bobol Keamanan Sistem NASA, Alexsandro Alvino Temukan Kerentanan Kritis di Platform Akademi Crypto

Setelah itu, Orion akan melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 10 hari.

Menariknya, misi ini tidak akan mendarat di Bulan, melainkan mengelilinginya melalui manuver lunar flyby.

Bahkan, jarak tempuhnya diperkirakan melampaui rekor misi Apollo 13 yang mencapai sekitar 400.000 km dari Bumi.

Selama di ruang angkasa dalam (deep space), kru akan menguji berbagai sistem penting, yaitu mulai dari pendukung kehidupan, navigasi, hingga komunikasi.

 Setelah melakukan “U-turn” di belakang Bulan dengan bantuan gravitasi, Orion akan kembali ke Bumi dan mendarat di Samudra Pasifik.

Tujuan Besar Artemis II

NASA punya visi jauh lebih besar dari sekadar mengulang sejarah.

Lewat Artemis, mereka ingin membangun kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan, bukan hanya kunjungan singkat seperti era Apollo.

Jadi Artemis II merupakan penerbangan uji coba berawak yang dirancang untuk mendemonstrasikan berbagai sistem penting sebelum misi pendaratan manusia di Bulan benar-benar dilakukan.

Fokus utamanya adalah memastikan seluruh teknologi utama, mulai dari roket Space Launch System (SLS) hingga kapsul awak Orion spacecraft dapat bekerja dengan aman dan optimal saat membawa manusia ke luar angkasa.

Lewat misi ini, NASA ingin memastikan bahwa semua sistem benar-benar siap sebelum melangkah ke tahap berikutnya, yaitu pendaratan manusia di Bulan dalam misi Artemis selanjutnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Nasa.gov, Planetary.org

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU