INDOZONE.ID - Langkah besar kembali diambil oleh pendiri Amazon, Jeff Bezos.
Menurut laporan Wall Street Journal, Kamis (19/3/2026), pria terkaya di dunia itu tengah dalam tahap awal pembicaraan untuk menggalang dana sebesar $100 miliar atau sekitar Rp1.600 triliun.
Uang sebanyak itu akan digunakan untuk membeli perusahaan-perusahaan manufaktur dan kemudian merevitalisasinya dengan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dana sebesar itu tidak bisa dikumpulkan sendirian. Bezos dilaporkan telah mengadakan pembicaraan dengan sejumlah manajer aset terbesar di dunia.
Beberapa bulan lalu, ia bahkan terbang ke Timur Tengah untuk bertemu dengan perwakilan dana kekayaan negara (sovereign wealth funds) di kawasan tersebut.
Baca juga: Mau Jadi Streamer? Kenali Saweria, Senjata Rahasia Kreator Lokal Biar Cepat Cuan!
Apa Itu 'Kendaraan Transformasi Manufaktur'?
Dalam dokumen yang diberikan kepada investor, proyek ambisius ini disebut sebagai "kendaraan transformasi manufaktur" (manufacturing transformation vehicle).
Target utamanya adalah perusahaan-perusahaan besar di industri strategis seperti pembuatan chip (semikonduktor), pertahanan, dan kedirgantaraan (aerospace).
Bayangkan, pabrik-pabrik besar yang selama ini beroperasi dengan cara konvensional akan diakuisisi dan kemudian diotomatisasi menggunakan teknologi AI paling mutakhir.
Ini adalah visi Bezos untuk masa depan industri: efisiensi maksimal dengan campur tangan minimal dari manusia.
Baca juga: Daftar Urutan Prosesor Intel 2026: Dari Seri Murah Hingga Teknologi AI Tercanggih.
Project Prometheus: Startup AI Bezos yang Mulai Bergerak
Rencana penggalangan dana besar ini berkaitan erat dengan startup AI milik Bezos yang diberi nama Project Prometheus.
Startup ini didedikasikan untuk mengembangkan AI bagi bidang teknik dan manufaktur, mencakup industri komputer, otomotif, dan pesawat luar angkasa.
Project Prometheus juga sedang dalam pembicaraan untuk menggalang dana hingga $6 miliar secara terpisah.
Kabarnya, startup ini telah mengumpulkan $6,2 miliar pada akhir tahun lalu. Yang menarik, David Limp, CEO Blue Origin (perusahaan antariksa Bezos), baru saja bergabung dalam dewan direksi Project Prometheus.
Baca juga: Platform X Tetapkan Batas Usia 16 Tahun di Indonesia, Ikuti Regulasi Perlindungan Anak
Belum Ada Komentar Resmi
Hingga berita ini diturunkan, Bezos belum bisa dimintai komentar. Dua pendiri Project Prometheus, Sherjil Ozair dan William Guss, juga belum merespons permintaan komentar Reuters di LinkedIn.
Namun jika rencana ini terwujud, Bezos tidak hanya akan mengubah wajah industri manufaktur global, tapi juga menciptakan lanskap baru di mana AI menjadi jantung dari proses produksi dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters