Jumat, 06 MARET 2026 • 17:30 WIB

Jangan Salah Sebut! Inilah Perbedaan Hacker dan Cracker yang Sering Bikin Terkecoh

Author

ilustrasi hacker (pixabay @B_A)

INDOZONE.ID - Istilah hacker sering kali muncul dalam berbagai pemberitaan teknologi dengan nada yang negatif.

Belakangan ini, istilah tersebut semakin populer di Indonesia setelah munculnya sosok anonim bernama Bjorka yang mencuri perhatian publik.

Banyak orang kemudian secara otomatis mengaitkan hacker dengan tindakan kejahatan siber, pencurian data, hingga spionase politik. Padahal, secara teknis dan etis, tidak semua hacker memiliki niat jahat.

Fenomena ini membuat banyak masyarakat bingung dalam memahami istilah hacker dan cracker. Keduanya memang sama-sama berkaitan dengan aktivitas penetrasi atau peretasan sistem komputer.

Namun, terdapat perbedaan yang sangat kontras antara hacker dan cracker, terutama jika dilihat dari sisi niat, tujuan, serta dampak dari cara kerja mereka.

Pemahaman tentang apa perbedaan hacker dan cracker menjadi krusial di era digital saat ini.

Seiring dengan meningkatnya ketergantungan kita pada teknologi informasi, ancaman keamanan siber juga semakin berkembang.

Baca juga: Ancaman Deepfake Makin Nyata, Keamanan Biometrik Perlu Diperkuat

Oleh karena itu, edukasi mengenai perbedaan hacker dan cracker dalam keamanan siber perlu diperjelas agar masyarakat dapat membedakan mana aktivitas yang bertujuan melindungi dan mana yang bertujuan merusak.

Fenomena Hacker yang Menghebohkan Indonesia

Beberapa waktu terakhir, publik Indonesia dihebohkan oleh aksi peretasan data berskala besar.

Sosok hacker bernama Bjorka menjadi pusat pembicaraan setelah diduga berhasil meretas dan membocorkan berbagai data penting milik instansi pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Bahkan, beberapa laporan menyebutkan bahwa data pribadi pejabat tinggi negara, termasuk Presiden Joko Widodo dan dokumen dari Badan Intelijen Negara (BIN), ikut terseret dalam pusaran kebocoran tersebut.

Peristiwa ini menjadi pemantik utama mengapa isu keamanan data mendadak menjadi perhatian nasional.

Masyarakat mulai menyadari bahwa keamanan siber bukan sekadar istilah teknis, melainkan pilar penting dalam melindungi privasi dan kedaulatan informasi digital.

Baca juga: Apa Itu Android System WebView? Fungsi, Keamanan, dan Dampaknya bagi Smartphone

Namun, jika kita menengok ke belakang, Indonesia juga memiliki talenta hacker yang diakui dunia dalam konteks positif. Salah satunya adalah Putra Aji Adhari, pemuda asal Jakarta Selatan.

Pada tahun 2019, ia menjadi viral karena berhasil menembus sistem keamanan situs bank dalam negeri hingga sistem milik lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA.

Menariknya, apa yang dilakukan Putra Aji bukanlah untuk mencuri uang atau merusak data.

Keahliannya tersebut justru membuat banyak pihak kagum karena ia melakukannya untuk menguji ketangguhan sistem (penetration testing).

Berkat kemampuan teknologinya, ia bahkan ditawari posisi strategis sebagai Chief Technology Officer (CTO) di sebuah perusahaan rintisan.

Fenomena Putra Aji membuktikan bahwa kemampuan hacking bisa menjadi aset berharga jika digunakan untuk tujuan yang konstruktif.

Ilustrasi hacker. (freepik)

Hacker dan Cracker: Mengapa Sering Disalahartikan?

Dalam terminologi keamanan siber (cyber security), hacker dan cracker adalah dua entitas yang berbeda.

Secara mendasar, hacker adalah individu yang memiliki kemampuan teknis tinggi dalam memahami sistem operasi, jaringan komputer, serta bahasa pemrograman.

Mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar untuk mengeksplorasi bagaimana sebuah sistem bekerja dan bagaimana cara memperkuatnya.

Di sisi lain, cracker adalah istilah yang lebih tepat untuk menyebut pelaku kejahatan siber. Cracker menggunakan kemampuan teknisnya untuk melakukan peretasan dengan tujuan merugikan pihak lain.

Jika hacker adalah "peneliti", maka cracker adalah "penyusup". Perbedaan hacker dan cracker dalam keamanan siber terutama terletak pada kode etik yang mereka pegang.

Baca juga: Discord Terapkan Fitur Keamanan Remaja Mulai Maret, Akses Dewasa Kini Lewat Verifikasi

Tujuan Aktivitas: Konstruktif vs Destruktif

Perbedaan paling mendasar antara hacker dan cracker dapat dilihat dari tujuan akhir aktivitas mereka.

  • Tujuan Hacker: Mereka menggunakan keahliannya untuk tujuan positif. Hacker sering bekerja sebagai konsultan keamanan siber yang membantu perusahaan menemukan celah sebelum celah tersebut ditemukan oleh penjahat. Mereka membantu memperkuat enkripsi, memperbaiki bug, dan memastikan data pengguna aman.
  • Tujuan Cracker: Cracker melakukan penetrasi sistem tanpa izin pemiliknya. Motivasi utama mereka biasanya adalah keuntungan finansial pribadi, balas dendam, atau sekadar pengakuan di komunitas gelap. Mereka masuk ke sistem untuk mencuri basis data, merusak tampilan situs (deface), atau menyebarkan perangkat lunak berbahaya.

Oleh karena itu, tindakan cracker selalu dikategorikan sebagai tindakan kriminal atau kejahatan siber (cyber crime), sedangkan aktivitas hacker etis legal dan sangat dibutuhkan oleh industri teknologi.

Baca juga: Cara Menyimpan Video YouTube ke Galeri: Panduan Lengkap Keamanan, Legalitas, dan Kualitas

Cara Kerja: Melindungi vs Mengeksploitasi

Cara kerja hacker melibatkan analisis mendalam terhadap kelemahan sistem. Setelah menemukan celah (vulnerability), seorang hacker akan memberikan laporan terperinci kepada pemilik sistem.

Laporan ini mencakup saran perbaikan agar sistem menjadi lebih tangguh.

Inilah sebabnya banyak perusahaan besar seperti Google atau Facebook menyediakan program Bug Bounty, yaitu pemberian hadiah uang bagi hacker yang berhasil menemukan celah di sistem mereka.

Sebaliknya, cara kerja cracker bersifat eksploitatif. Begitu mereka menemukan celah di jaringan komputer, mereka akan masuk secara ilegal dan melakukan manipulasi.

Cracker sering kali menggunakan perangkat lunak khusus dan alamat IP yang sulit dilacak untuk menghindari deteksi hukum.

Setelah berhasil mengambil apa yang mereka inginkan (misalnya data kartu kredit atau identitas pengguna), mereka mungkin akan merusak sistem tersebut sehingga tidak bisa digunakan lagi oleh pemiliknya.

Ilustrasi hacker. (Freepik/Standret)

Jenis-Jenis Hacker: Mengenal White, Black, dan Grey Hat

Untuk mempermudah klasifikasi dalam dunia keamanan siber, hacker dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan "warna topi" yang mereka gunakan:

1. White Hat Hacker

Sering disebut sebagai Ethical Hacker. Mereka adalah para ahli keamanan yang bekerja secara legal dan etis. Tugas utama mereka adalah membantu organisasi melindungi data mereka dari serangan siber.

2. Black Hat Hacker

Inilah sebutan lain untuk Cracker. Mereka adalah peretas yang melanggar hukum untuk keuntungan pribadi atau niat jahat. Setiap tindakan mereka bersifat ilegal.

Baca juga: Cara Mematikan Windows Defender di Windows 10 dan 11, Lengkap dengan Risiko Keamanan!

3. Grey Hat Hacker

Kelompok ini berada di tengah-tengah. Mereka mungkin meretas sebuah sistem tanpa izin (secara teknis ilegal), namun mereka tidak memiliki niat jahat untuk merusak atau mencuri.

Biasanya, mereka akan memberitahu pemilik sistem tentang celah tersebut dengan harapan mendapatkan imbalan atau sekadar menunjukkan kemampuan mereka.

Pentingnya Cyber Security di Era Digital

Meningkatnya serangan siber belakangan ini membuat aspek keamanan menjadi prioritas utama.

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, pernah menekankan betapa krusialnya cyber security bagi stabilitas ekonomi negara, terutama setelah beberapa situs pemerintah menjadi target serangan.

Serangan siber bukan hanya soal kehilangan data, tapi juga bisa melumpuhkan layanan publik dan menyebabkan kerugian finansial yang masif.

Baca juga: Sistem Verifikasi Wajah Roblox Picu Kontroversi, Keamanan Anak Justru Dipertanyakan!

Keamanan siber adalah upaya kolektif untuk melindungi perangkat, jaringan, dan data dari akses ilegal.

Ancaman ini tidak hanya menyasar korporasi besar atau pemerintah, tetapi juga bisnis kecil hingga individu melalui metode seperti phishing atau malware.

Karena ancaman dari cracker semakin canggih, profesi di bidang keamanan siber justru semakin dibutuhkan.

Menjadi seorang hacker etis (White Hat) kini merupakan jalur karier yang menjanjikan dengan gaji yang kompetitif. Dunia membutuhkan lebih banyak hacker untuk melawan cracker.

Kesimpulan

Memahami apa perbedaan hacker dan cracker membantu kita melihat lanskap digital secara lebih jernih. Hacker adalah para ahli yang membangun dan menjaga, sementara cracker adalah mereka yang merusak dan mencuri.

Dengan literasi digital yang baik, kita tidak lagi menyamaratakan semua peretas sebagai penjahat, melainkan sebagai bagian penting dari ekosistem keamanan informasi. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Djkn.kemenkeu.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU