Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 05 NOVEMBER 2025 • 14:15 WIB

Bukan Hacker, Tapi Manipulator: Modus Baru Penipuan Online

Bukan Hacker, Tapi Manipulator: Modus Baru Penipuan OnlineIlustrasi Penipuan Online. (FREEPIK)

INDOZONE.ID - Di era digital, penipuan tak lagi hanya soal perampokan atau pencurian fisik. Salah satu modus paling licik yang kini marak terjadi adalah social engineering, yaitu teknik manipulasi psikologis yang membuat korban secara sukarela memberikan informasi pribadi, data keuangan, atau bahkan mentransfer uang. Penipu tak perlu meretas sistem komputer, cukup dengan membuat korban percaya.

Modus social engineering bisa muncul lewat berbagai saluran: telepon (vishing) dengan mengaku sebagai petugas bank atau aparat hukum, email palsu (phishing) yang tampak resmi, hingga WhatsApp dan SMS (smishing) dengan tautan jebakan. Ada juga penipuan berbasis cerita (pretexting), di mana pelaku menyamar sebagai teman lama, pegawai instansi, atau keluarga korban untuk menggali informasi sensitif.

Baca juga: 5 Tips Penting agar Kamu Enggak Mudah Kena Scam di Media Sosial!

Yang membuat social engineering berbahaya adalah kemampuannya mengecoh siapa pun, termasuk orang cerdas dan berpendidikan. Para penipu memanfaatkan sisi manusiawi: rasa takut, panik, atau empati. Apalagi, teknologi kini memungkinkan mereka memakai AI, deepfake, dan data dari media sosial untuk membuat jebakan lebih meyakinkan.

Contoh nyata pernah terjadi di Indonesia, salah satu pelaku berhasil menipu korban hingga miliaran rupiah hanya dengan tautan WA palsu. Seorang wanita bernama Nur Indah asal Deli Serdang menjadi korban penipuan setelah menerima pesan WhatsApp dari seseorang yang mengaku sebagai kurir PT Pos. Pelaku mengirimkan file APK yang disebut sebagai bukti pengiriman paket. Tanpa curiga, Nur menginstalnya, dan tak lama kemudian saldo rekeningnya terkuras habis. Total kerugian mencapai lebih dari Rp50 juta. Padahal, korban sama sekali tidak membagikan kode OTP atau PIN kepada siapa pun. Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana modus social engineering berkembang, memanfaatkan aplikasi palsu untuk menyusup ke perangkat korban dan mengambil alih akses rekening.

Agar tak mudah menjadi korban, penting untuk selalu waspada dan kritis. Jangan buru-buru merespons pesan yang bersifat mendesak. Verifikasi sumber informasi, periksa ulang alamat email atau nomor pengirim, dan hindari membagikan data pribadi di media sosial. Gunakan juga fitur keamanan seperti autentikasi dua faktor (2FA) dan rajin memperbarui perangkat lunak.

Baca juga: Telegram OTP Scam Bisa Akibatkan Kejahatan Cyber dengan Mencuri Uang di ATM Mobile

Ingat, dalam social engineering, yang diretas bukan hanya perangkat, tetapi juga pikiran dan emosi kita. Maka, kewaspadaan dan literasi digital adalah benteng utama dari penipuan online yang makin canggih dan tersembunyi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Cmu.edu, Ibm.com

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Bukan Hacker, Tapi Manipulator: Modus Baru Penipuan Online

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!