INDOZONE.ID - Pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia dinilai semakin matang. Hal ini terlihat dari laporan Microsoft Work Trend Index (WTI) 2026 yang mengungkap bahwa 33 persen pengguna AI di Indonesia telah masuk kategori frontier professionals, atau pekerja yang mampu memanfaatkan AI secara lebih strategis tanpa mengesampingkan peran manusia dalam pengambilan keputusan.
Persentase tersebut bahkan lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata global yang hanya mencapai 16 persen, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang menonjol dalam pemanfaatan AI di kawasan Asia Pasifik.
Apa Itu Frontier Professionals?
Senior Cloud and AI Platform GTM Microsoft ASEAN, Fiki Setiyono, menjelaskan bahwa frontier professionals bukan sekadar pengguna AI yang memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan pekerjaan.
Mereka justru menggunakan AI sebagai alat untuk memperluas cara berpikir dan meningkatkan kapasitas kerja, sambil tetap mengandalkan kemampuan analisis serta berpikir kritis dalam menentukan hasil akhir.
Baca juga: 5 AI Website Builder Terbaik: Ini Cara Instan Bikin Website Tanpa Ribet
"Tapi justru menggunakan kemampuan berpikir kritis mereka untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari kemampuan agen AI tersebut, memperluas cara berpikir, memperluas kapasitas berpikir," kata Fiki.
AI Bantu Selesaikan Pekerjaan yang Lebih Kompleks
Laporan Microsoft menunjukkan 82 persen responden di Indonesia mengaku AI membantu mereka menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya dianggap sulit, bahkan tidak mungkin dilakukan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di 58 persen.
Selain itu, 74 persen responden menyatakan mereka telah terbiasa menentukan lebih dulu pekerjaan mana yang akan didelegasikan kepada AI sebelum mulai bekerja.
Di sisi lain, 38 persen responden tetap memilih mengerjakan sebagian tugas secara mandiri agar kemampuan mereka tidak bergantung sepenuhnya pada AI. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pengguna non-frontier di Indonesia yang mencapai 28 persen.
Empat Cara Profesional Memanfaatkan AI
Microsoft juga menemukan bahwa penggunaan AI kini tidak lagi sebatas memberikan prompt kepada chatbot.
Menurut Fiki, terdapat empat pola utama pemanfaatan AI oleh frontier professionals, yaitu:
- Delegasi, dengan menyerahkan sebagian pekerjaan kepada agen AI.
- Kolaborasi, menjadikan AI sebagai mitra untuk membantu analisis dan pengambilan keputusan.
- Bertanya, memanfaatkan AI sebagai alat pencarian informasi melalui proses tanya jawab.
- Eksplorasi, menggunakan AI untuk membantu mencari solusi atas persoalan yang semakin kompleks.
Meski demikian, pengguna tetap bertanggung jawab terhadap hasil akhir dari pekerjaan yang dibantu AI.
Baca juga: Apa Itu On-Device AI dan Cloud AI? Ini Perbedaannya yang Wajib Diketahui untuk HP Kamu
"Jadi frontier professionals selain mereka melakukan pemanfaatan AI ini dengan alat yang tersedia, mereka tetap memposisikan diri mereka bertanggung jawab terhadap hasil dan dampaknya," ujar Fiki.
Penilaian Manusia Tetap Jadi Faktor Utama
Laporan Microsoft juga menunjukkan bahwa kematangan penggunaan AI di Indonesia ditandai dengan tetap kuatnya peran manusia dalam mengevaluasi hasil yang dihasilkan teknologi tersebut.
Sebanyak 62 persen responden menilai kemampuan berpikir kritis dan menganalisis informasi secara objektif menjadi semakin penting di era AI.
Sementara itu, 60 persen responden menyebut proses pengendalian kualitas terhadap hasil AI kini semakin krusial, terutama ketika AI mulai menangani pekerjaan yang lebih kompleks.
Bahkan, 93 persen pengguna AI di Indonesia menganggap hasil yang diberikan AI hanya menjadi titik awal dalam proses kerja, bukan keputusan final.
"Pengguna AI di Indonesia ini tetap menempatkan penilaian manusia ya sebagai pusat dari keputusan mereka bagaimana mereka akan menggunakan agen AI," ujar Fiki.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi pembeda utama antara sekadar mengadopsi AI dengan mencapai tingkat kematangan dalam memanfaatkan teknologi tersebut.
"Salah satu pembeda adopsi AI dan kematangan dalam menggunakan AI adalah sebuah pemikiran yang menempatkan penilaian AI itu tetap berperan penting bahkan kritikal," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA