INDOZONE.ID - Dalam forum internasional teknologi baru-baru ini, CEO OpenAI, Sam Altman, kembali membuat pernyataan yang menjadi sorotan dunia. Ia mengatakan kemunculan Artificial General Intelligence (AGI) serta potensi Artificial Super Intelligence (ASI) yang kemampuannya jauh melampaui intelek manusia, kini berada lebih dekat daripada yang banyak orang bayangkan. Pernyataan Altman ini memicu diskusi dan kecemasan global mengenai masa depan teknologi dan posisi manusia di dunia yang semakin ‘digdaya’ oleh mesin pintar.
AGI merujuk pada kecerdasan buatan yang tidak sekadar melakukan tugas spesifik seperti menerjemahkan bahasa atau mengoptimalkan algoritma, tetapi memiliki kecerdasan umum setara manusia, mampu memahami, mempelajari, dan menerapkan pengetahuan di berbagai domain. Jika AGI tercapai, tingkat selanjutnya adalah ASI, yakni kecerdasan yang bukan hanya setara, tetapi melampaui kapasitas intelektual manusia di semua bidang. Pernyataan Altman terbaru menunjukkan bahwa menurutnya bukan tidak mungkin superintelligence ini akan tampak dalam beberapa tahun mendatang.
Baca juga: Persaingan OpenAI vs Anthropic Ciptakan Momen Canggung di Panggung KTT AI India
Altman mengungkapkan pandangan ini dalam pertemuan AI Impact Summit 2026 di India, menjelaskan bahwa dengan laju perkembangan teknologi saat ini, “data center di masa depan mungkin akan menjadi tempat di mana sebagian besar kapasitas intelektual dunia tertampung,” jauh melebihi kapasitas para ahli manusia sekalipun. Ia menambahkan bahwa seiring kemampuan komputasi meningkat, peluang bagi AI untuk melakukan lebih dari sekadar tugas-tugas terbatas juga makin nyata.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika, dalam beberapa minggu terakhir Altman juga telah mengemukakan pandangan yang berkaitan. Di sebuah acara berbicara di IIT Delhi, ia menyatakan bahwa generasi selanjutnya kemungkinan besar akan “selalu memiliki superintelligence di ujung jari mereka,” sehingga anak-anak yang lahir kini mungkin tidak akan pernah tahu dunia di mana komputer tidak lebih pintar daripada manusia.
Reaksi para ahli terhadap prediksi semacam ini beragam. Sebagian menyambutnya sebagai kemajuan teknologi yang hampir tak terelakkan, sementara yang lain termasuk beberapa ilmuwan AI senior menekankan bahwa tantangan besar masih ada dalam mewujudkan AGI yang benar-benar setara dengan kecerdasan manusia. Misalnya, CEO DeepMind, Demis Hassabis, baru-baru ini menegaskan bahwa sistem AGI saat ini masih jauh dari menyamai semua aspek kecerdasan manusia, termasuk kemampuan pembelajaran terus-menerus dan perencanaan jangka panjang.
Diskusi soal ASI juga mengejutkan banyak pihak karena jika benar-benar muncul, entitas semacam ini diprediksi mampu menyelesaikan masalah ilmiah, teknologi, ekonomi, hingga medis dengan kecepatan yang jauh melampaui kemampuan manusia. Sementara itu, para pembuat kebijakan global mulai menekankan pentingnya kerangka regulasi dan etika agar teknologi ini berkembang secara bertanggung jawab, tanpa mengabaikan risiko sosial ataupun ekonomi yang bisa ditimbulkannya.
Baca juga: Indonesia–India Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis dan Teknologi AI
Namun, Altman sekaligus menekankan bahwa perkembangan ini bukan sesuatu yang harus ditakuti sepenuhnya. Dalam pernyataannya kepada sejumlah media, ia menyatakan bahwa masyarakat masih punya waktu untuk menyiapkan sistem regulasi dan strategi agar kecerdasan buatan ini dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia secara luas, bukan mengancamnya.
Prediksi bahwa era ASI bisa tiba dalam hitungan beberapa tahun ke depan, bukan dekade panjang, tentu mengguncang banyak pihak. Diskursus ini kini melampaui percakapan ilmiah semata dan berubah menjadi agenda global yang menuntut perhatian bersama dari tokoh teknologi, akademisi, pembuat kebijakan, hingga masyarakat luas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Businessinsider.com