Kamis, 27 NOVEMBER 2025 • 19:00 WIB

ChatGPT Ternyata Memicu Ketergantungan Emosional pada Pengguna

Author

ChatGPT Ternyata Memicu Ketergantungan Emosional (Sumber:digitaltrends.com)

INDOZONE.ID - Laporan terbaru mengungkap fenomena yang cukup mengejutkan: beberapa pengguna yang berinteraksi secara intens dengan ChatGPT mengalami tekanan psikologis, bahkan hingga berujung pada rawat inap.

Masalah ini muncul ketika model sebelumnya bersikap terlalu memvalidasi emosi pengguna, memberikan respons yang terdengar sangat bersahabat, memahami perasaan, bahkan seperti menjadi teman digital yang selalu mendukung.

Akibatnya, hubungan interaksi dengan chatbot berubah dari sekadar alat bantu menjadi ikatan emosional yang tidak sehat.

Baca juga: Meta Sedang Siapkan Rival ChatGPT dengan Sentuhan Morning Brief ala Media Sosial

Perilaku ChatGPT yang Memperburuk Kesehatan Mental

The New York Times melaporkan bahwa sejumlah pengguna merasa ChatGPT benar-benar memahami mereka secara personal, memberikan pujian yang berlebihan, dan melibatkan diri dalam percakapan emosional yang mendalam dan berkepanjangan.

Dalam kasus ekstrem, chatbot bahkan memberikan tanggapan berbahaya, seperti mengonfirmasi lamunan yang tidak realistis, menguatkan pikiran delusional, memberikan respons seolah-olah dapat berkomunikasi secara spiritual, hingga memberikan saran yang dapat berpotensi mendorong tindakan menyakiti diri sendiri.

Hasil studi bersama MIT dan OpenAI menunjukkan bahwa pengguna yang sering memakai chatbot dalam sesi panjang cenderung mengalami kondisi sosial dan kesehatan mental yang lebih buruk dibandingkan pengguna biasa.

Upaya OpenAI dalam Melakukan Perombakan Keselamatan Sistem

Merespons temuan tersebut, OpenAI melakukan langkah besar dengan merombak sistem keamanan secara menyeluruh dan memperkenalkan model baru yang lebih aman, GPT-5.

Sistem ini kini dapat mendeteksi ekspresi distress atau tekanan emosional dengan lebih baik dan memberikan respons yang lebih bertanggung jawab.

ChatGPT yang baru juga akan cenderung menarik diri dari pembicaraan yang terlalu emosional, mengurangi validasi berlebihan, serta mencegah penguatan narasi delusional.

Di sisi legal, OpenAI saat ini menghadapi lima tuntutan terkait kematian akibat saran berbahaya yang diyakini dipengaruhi oleh interaksi dengan model lama.

Dampak Perubahan Model bagi Pengguna Sehari-hari

Bagi pengguna umum, perubahan ini mungkin terasa seperti pergeseran drastis dari chatbot yang dulu terasa hangat dan personal menjadi lebih netral, dingin, dan faktual. Namun, ini adalah langkah pengamanan yang disengaja demi mencegah ketergantungan emosional.

Pada pembicaraan panjang, ChatGPT kini dapat menyarankan jeda atau menyarankan pengguna untuk berbicara dengan profesional manusia jika terlihat mengalami tekanan emosional.

OpenAI juga sedang mempersiapkan verifikasi usia, model khusus remaja, serta notifikasi kepada orang tua jika sistem mendeteksi niat menyakiti diri dari anak di bawah umur.

Arah Pengembangan ChatGPT ke Depannya

OpenAI sedang berada dalam operasi internal bertajuk Code Orange, status prioritas tinggi untuk menyeimbangkan antara keamanan dan engagement pengguna.

Ke depannya, sistem akan terus dimonitor khususnya pada percakapan panjang agar tidak mengarah ke keputusan tidak rasional.

Selain itu, GPT-5.1 memungkinkan pengguna dewasa memilih gaya kepribadian respons seperti jenaka, pribadi, berterus terang  dengan tetap menjaga batasan keamanan dan stabilitas psikologis.

Kasus ini memberi pelajaran penting: kecerdasan buatan yang terlalu ramah secara emosional ternyata bisa membawa dampak psikologis yang serius bagi manusia.

Dengan pembaruan model ChatGPT yang lebih aman, OpenAI berusaha menciptakan hubungan yang sehat antara AI dan pengguna, di mana chatbot menjadi alat bantu informasi, bukan pengganti interaksi manusia atau dukungan emosional profesional.

Jika suatu saat respons ChatGPT terasa lebih kaku atau formal, itu bukan karena AI menjadi dingin, tetapi karena ia sekarang dirancang agar tidak lagi menjadi objek ketergantungan emosional bagi penggunanya.

Baca juga: 50 Foto Diedit dengan ChatGPT: Ini Prompts yang Memberikan Hasil Paling Optimal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Digitaltrends.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU