Kamis, 16 OKTOBER 2025 • 20:23 WIB

Menjaga Bumi Tetap Dingin di Era Panas Digital, Ini Terobosan Baru dari Singapura

Author

Ilustrasi Artificial Intelligence. (Freepik)

INDOZONE.ID - Masa depan digital kini melaju dengan kecepatan tinggi, terutama di era kecerdasan buatan (AI) dan komputasi berkinerja tinggi. Di tengah pesatnya pertumbuhan ini, tantangan besar pun muncul.

Seperti bagaimana memastikan sistem pusat data tetap efisien, andal, dan ramah lingkungan? Kawasan Asia Pasifik kini menjadi pusat pertumbuhan data center tercepat di dunia, menyumbang lebih dari 40% kapasitas global baru. 

Permintaan yang diprediksi akan melonjak dua kali lipat pada 2030 didorong oleh ekspansi AI, cloud computing, dan HPC. Di Singapura, data center menyumbang sekitar 7% konsumsi listrik nasional, dengan pendinginan mengambil porsi hingga 40% dari total penggunaan energi. 

Dengan pasar yang diproyeksikan tumbuh dari USD 4,16 miliar pada 2024 menjadi USD 5,59 miliar pada 2030, efisiensi energi dan pengelolaan air menjadi faktor kunci untuk menjaga keberlanjutan.

Di Singapura Ecolab telah menjadi bagian penting dalam berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur makanan dan minuman, perhotelan, hingga mikroelektronika dan energi. Kini, melalui inovasi di bidang pendinginan data center, ada komitmen dalam mendukung ekonomi digital hijau di kawasan Asia Tenggara.

“Data center kini menjadi tulang punggung perkembangan AI dan transformasi digital global,” ujar CEO & Senior Vice President Ecolab Southeast Asia Gregory Lukasik kepada wartawan.

Baca juga: Bocoran Terbaru iPhone 17: Kamera Besar, Pendinginan Lebih Baik, Baterai Lebih Tahan Lama

Terobosan Baru dalam Dunia Pendinginan Digital

Inovasi baru diperkenalkan melalui teknologi 3D TRASAR for Direct-to-Chip Liquid Cooling pada ajang Data Center World Asia 2025 di Singapura

Menjawab tantangan tersebut, solusi keberlanjutan untuk air, kebersihan, dan pencegahan infeksi telah disiapkan. Dengan teknologi pemantauan pendinginan Direct-to-Chip pertama di Asia Tenggara. Inovasi ini diperkenalkan melalui teknologi 3D TRASAR for Direct-to-Chip Liquid Cooling pada ajang Data Center World Asia 2025 di Singapura.

Teknologi terbaru ini menjadi langkah besar dalam sistem pendinginan data center modern. Kesehatan sistem pendingin dapat dipantau secara real-time, mulai dari suhu, kadar pH, hingga laju aliran air. 

Sistem ini bukan hanya menjaga performa server agar tetap optimal, tetapi juga membantu mencegah potensi gangguan operasional yang bisa merugikan.

“Kami ingin menghadirkan sistem yang bukan hanya efisien dan tangguh, tetapi juga mampu menggunakan kembali air dan energi dengan cara yang berkelanjutan."

Baca juga: Dua Komet Terang Akan Melintas Dekat Bumi pada Akhir Oktober 2025

Menjawab Ledakan Permintaan Digital Asia Pasifik

Sebagai wujud investasi jangka panjang, Institute of Technical Education (ITE) Singapura dilibatkan untuk melatih generasi baru insinyur dan profesional manajemen air. Langkah ini diharapkan dapat membangun sumber daya manusia yang siap menghadapi era data center berkelanjutan.


VP for Materials & Chemicals di Economic Development Board Singapore Kelly Lai, menambahkan, ketika Singapura terus berinvestasi dalam talenta dan infrastruktur AI, kolaborasi akan menjadi kunci untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.

“Dengan inovasi ini, yang ditawarkan tidak hanya teknologi, tetapi juga visi masa depan digital yang lebih cerdas, tangguh, dan berkelanjutan bagi Asia Tenggara dan dunia,” tutupnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ecolab

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU