INDOZONE.ID - Geoffrey Hinton, sosok yang dikenal luas sebagai bapak kecerdasan buatan (AI), kembali menjadi sorotan.
Kali ini bukan karena penelitiannya yang revolusioner, melainkan pengalaman pribadinya yang cukup unik.
Hinton mengaku terkejut ketika ChatGPT, chatbot populer buatan OpenAI, digunakan pacarnya untuk mengakhiri hubungan mereka.
Baca juga: Geoffrey Hinton Sebut AI Butuh “Naluri Keibuan” Bukan Sekadar Patuh
Putus Cinta dengan Bantuan ChatGPT
Dalam wawancaranya bersama Financial Times, Hinton menceritakan bahwa mantan kekasihnya meminta ChatGPT menuliskan pesan untuk mengkritik sikapnya.
“Dia meminta ChatGPT menjelaskan betapa buruknya perilaku saya, lalu memberikannya kepada saya,” ungkap Hinton.
Meski menganggap cara itu mengejutkan, ia menegaskan dirinya tidak terlalu tersinggung.
Fenomena ini menggambarkan tren baru di mana orang mulai menggunakan AI untuk menangani hal-hal pribadi, termasuk menyusun pesan putus cinta atau meminta saran terkait hubungan.
Sosok di Balik Fondasi AI Modern
Geoffrey Hinton dikenal sebagai salah satu ilmuwan yang meletakkan dasar pengembangan jaringan saraf tiruan pada 1980-an.
Atas kontribusinya, ia menerima Hadiah Nobel Fisika pada 2024.
Selama satu dekade, ia bekerja di Google pada berbagai proyek AI sebelum keluar pada 2023 demi fokus pada riset independen.
Saat ini, Hinton menjabat sebagai Profesor Emeritus di Departemen Ilmu Komputer Universitas Toronto, lembaga yang sudah lama berhubungan dengannya.
Kekhawatiran Soal Masa Depan AI
Meski memiliki humor soal pengalamannya dengan ChatGPT, Hinton tetap menegaskan kekhawatirannya terhadap dampak jangka panjang AI.
Menurutnya, dalam kurun 5 hingga 20 tahun ke depan, kecerdasan buatan bisa mencapai level superintelijen yang mampu menyaingi atau bahkan melampaui manusia.
Hinton memperingatkan bahwa teknologi ini berpotensi menimbulkan pengangguran besar-besaran, serta memperlebar kesenjangan ekonomi.
Ia menegaskan bahwa masalah tersebut lebih disebabkan oleh sistem kapitalis ketimbang teknologi itu sendiri.
Harapan Baru
Meski tetap waspada terhadap dampak negatif AI, Hinton percaya teknologi ini juga bisa membawa manfaat besar jika dikembangkan dengan prinsip yang tepat.
Ia mengibaratkan, AI sebaiknya dibentuk seperti “seorang ibu” yang peduli dan melindungi kehidupan anaknya. Di sisi lain, Hinton mengaku kini sudah menemukan pasangan baru.
Baca juga: GPT-5 Hadirkan Perubahan Kepribadian ChatGPT, Pengguna Terbelah Antara Suka dan Kecewa
Semoga kali ini hubungan pribadinya berjalan harmonis—tanpa perlu campur tangan ChatGPT.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Digitaltrends.com