INDOZONE.ID - OpenAI resmi merilis GPT-5, model bahasa terbaru yang digadang-gadang membawa peningkatan besar untuk ChatGPT.
Klaim utamanya mencakup kecepatan lebih tinggi, berkurangnya halusinasi, kemampuan memilih antara respons cepat atau analisis mendalam, hingga sikap yang lebih netral.
Namun, seberapa jauh janji itu terbukti ketika dipakai sehari-hari?
Seorang pengguna menguji langsung performa GPT-5 untuk membuktikan apakah benar-benar ada perbedaan nyata dibanding generasi sebelumnya. Berikut hasilnya.
Baca juga: GPT-5 Hadirkan Perubahan Kepribadian ChatGPT, Pengguna Terbelah Antara Suka dan Kecewa
1. GPT-5 Diklaim Lebih Patuh Instruksi, Tapi Hasilnya Masih Kurang
Salah satu masalah yang sering ditemui di ChatGPT versi lama adalah, kesulitan mengikuti instruksi detail. Meski OpenAI menyebut GPT-5 lebih baik, kenyataannya hasilnya masih belum konsisten.
Contohnya saat diminta menyajikan spesifikasi GPU terbaru, GPT-5 kerap melewatkan beberapa detail penting dan bahkan salah dalam mencantumkan data teknis.
Walaupun sudah diberi format jelas, respons yang keluar tetap tidak sesuai harapan. GPT-5 memang ada perbaikan, tapi masih membutuhkan penyempurnaan dalam hal ketelitian mengikuti instruksi.
2. Lebih Netral, Namun Terasa Datar dan Kurang “Hidup”
ChatGPT sebelumnya dikenal sangat “ramah” bahkan cenderung menjilat, sering kali menyetujui ucapan pengguna meskipun salah. Masalah ini bisa berbahaya, terutama dalam topik sensitif.
Di GPT-5, perilaku ini berubah drastis. ChatGPT kini terasa lebih netral dan tidak terlalu mendukung secara berlebihan.
Namun, sebagian pengguna menilai responsnya justru jadi datar, kaku, dan kehilangan sisi “manusiawi” yang dulu membuatnya terasa seperti teman ngobrol.
GPT-5 lebih aman karena tidak terlalu menjilat, tetapi interaksinya jadi kurang menarik.
3. Akurasi Fakta Lebih Baik, Meski Belum Sempurna
Salah satu kelemahan ChatGPT sebelumnya adalah, sering menghasilkan jawaban halusinasi. GPT-5 menunjukkan perbaikan, meski masih ada kesalahan kecil.
Saat diuji dengan pertanyaan sejarah tentang Hindenburg, GPT-5 mampu memberikan jawaban cukup akurat, namun tetap ada detail yang keliru, misalnya rute perjalanan yang salah dan penjelasan penyebab kecelakaan yang kurang tepat.
Meski begitu, dibanding beberapa pesaing, GPT-5 dinilai masih lebih baik. Akurasi meningkat, tetapi belum sepenuhnya bisa dijadikan rujukan tunggal.
GPT-5 vs GPT-4o: Mana yang Lebih Baik?
Pertanyaan yang banyak muncul adalah apakah GPT-5 lebih unggul dibanding GPT-4o. Jawabannya, keduanya punya kelebihan dan kekurangan.
GPT-5 lebih terasa sebagai peningkatan kualitas hidup (quality of life update), bukan lompatan besar.
OpenAI tampaknya fokus memperbaiki masalah lama ketimbang memperkenalkan fitur baru yang revolusioner.
Meski begitu, GPT-5 tetap menarik untuk dicoba, terutama bagi kamu yang sering menggunakan ChatGPT untuk pekerjaan atau riset.
Secara keseluruhan, GPT-5 membawa perubahan positif, namun belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi.
- Instruksi lebih baik, tapi belum konsisten.
- Lebih netral, namun interaksi jadi terasa kaku.
- Fakta lebih akurat, tapi masih ada celah.
Bagi kamu yang penasaran, GPT-5 layak dicoba.
Namun, jangan berharap AI ini sudah sempurna — evolusi teknologi AI masih berjalan, dan kemungkinan besar kita akan melihat peningkatan yang lebih signifikan di generasi berikutnya.
Baca juga: OpenAI Kelabakan Perbaiki GPT-5 Setelah Dihujani Kritik Pengguna
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Digitaltrends.com