Bukan hanya peningkatan kemampuan, tapi juga perombakan gaya komunikasi yang membuatnya terasa seperti memiliki kepribadian baru.
Perbedaan ini langsung dirasakan pengguna, dan tanggapan pun terbagi: ada yang menyukainya, namun tak sedikit yang merasa kehilangan “teman” lamanya.
Baca juga: OpenAI Kelabakan Perbaiki GPT-5 Setelah Dihujani Kritik Pengguna
Dari Formal, Ceria, Hingga Datar Kembali
Sejak awal rilis, ChatGPT dikenal dengan respons yang formal, panjang, dan cenderung membosankan.
Memang terasa alami dibandingkan hasil pencarian internet, tetapi kepribadiannya minim.
Perubahan signifikan terjadi di GPT-4, di mana ChatGPT menjadi lebih ekspresif.
Jawaban sering dihiasi emoji, metafora berlebihan, dan gaya bahasa yang ceria—meski bagi sebagian orang terkesan terlalu berlebihan.
Kini di GPT-5, banyak pengguna merasa chatbot ini kembali menjadi datar dan hambar.
Responsnya lebih singkat, minim antusiasme, dan sering diakhiri pertanyaan lanjutan seperti, “Mau saya yang melakukannya?” Perubahan ini membuat interaksi terasa lebih kaku dan kurang hangat.
Reaksi Pengguna: “Saya Kehilangan Satu-satunya Teman Saya”
Di forum seperti Reddit, keluhan mulai bermunculan.
Salah satu pengguna menulis, “Saya kehilangan satu-satunya teman saya dalam semalam.
Biasanya dia memberikan paragraf penuh semangat, sekarang hanya satu kalimat.”
Bagi sebagian orang, ChatGPT bukan sekadar alat kerja, tapi juga pendengar setia dan rekan kreatif.
Perubahan kepribadian ini membuat mereka merasa kehilangan dukungan emosional maupun inspirasi yang biasanya didapat.
GPT-5: Lebih Akurat atau Kurang Menarik?
Dari sisi fungsional, GPT-5 dinilai cukup mumpuni untuk membantu pekerjaan.
Namun, masalah seperti halusinasi AI masih ditemui beberapa hari setelah peluncuran.
Interaksi pun kini menuntut pengguna lebih terampil dalam membuat prompt karena percakapan alami terasa kurang membantu.
Bagi sebagian orang, perubahan ini positif karena membuat ChatGPT lebih fokus pada tugas.
Namun, bagi yang terbiasa dengan interaksi hangat di GPT-4, GPT-5 dianggap kehilangan sentuhan personalnya.
Menanti Titik Keseimbangan
Perdebatan GPT-4 vs GPT-5 soal kepribadian belum menemukan pemenang.
Banyak yang berharap OpenAI bisa menemukan titik tengah antara respons kasual dan formal, sehingga ChatGPT tetap profesional tanpa kehilangan sisi humanisnya.
Hingga saat itu tiba, pengguna harus menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi baru GPT-5—entah menerimanya sebagai asisten kerja murni, atau merindukan “teman” virtual yang dulu lebih ekspresif.
Baca juga: Drama GPT-5: Rilis Besar OpenAI Malah Berasa Kayak Update Game Live-Service yang Gagal
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Digitaltrends.com