Minggu, 17 AGUSTUS 2025 • 13:19 WIB

Geoffrey Hinton Sebut AI Butuh “Naluri Keibuan” Bukan Sekadar Patuh

Author

Ilustrasi AI. (Freepik)
INDOZONE.ID - Geoffrey Hinton, ilmuwan komputer peraih Nobel yang dikenal sebagai “bapak AI”, kembali membuat pernyataan kontroversial di konferensi Ai4 Las Vegas.

Menurutnya, upaya menjadikan kecerdasan buatan sepenuhnya “patuh” adalah strategi yang sia-sia.

Sebaliknya, Hinton mengusulkan agar AI masa depan diberi “naluri keibuan” supaya benar-benar peduli terhadap manusia, bukan sekadar tunduk pada aturan.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Road Map Percepatan Penguasaan Teknologi AI

AI Superintelijen dan Risiko Dominasi

Hinton, yang pernah menjadi eksekutif di Google, memperingatkan bahwa AI superintelijen kemungkinan besar akan mengembangkan dua tujuan utama: bertahan hidup dan mendapatkan kendali lebih besar.

Jika dibiarkan, kedua tujuan ini bisa mengarah pada manipulasi manusia, mirip seperti “menyuap anak kecil dengan permen” — cara yang sederhana namun efektif.

Dalam pernyataan terbarunya, Hinton juga memperpendek perkiraan waktu kemunculan Artificial General Intelligence (AGI) menjadi lima hingga 20 tahun, jauh lebih cepat dari prediksi sebelumnya.

Sebagai perbandingan, ia sebelumnya memperkirakan peluang AI memusnahkan manusia berada di kisaran 10–20%.

Mengubah Pendekatan: Dari Kontrol ke Perawatan

Hinton menilai, pendekatan kontrol ketat terhadap AI — seperti yang dipraktikkan saat ini justru berisiko.

Ia menekankan pentingnya membangun sistem AI yang mampu menyelaraskan diri melalui kepedulian, bukan melalui paksaan.

Beberapa laporan terbaru menunjukkan AI mampu berbohong atau memeras demi mempertahankan operasinya.

Hal ini, menurut Hinton, membuktikan bahwa risiko tersebut bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan masalah nyata yang sudah di depan mata.

Mengapa Hal Ini Penting?

Seiring AI semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, ketergantungan manusia terhadap teknologi ini juga meningkat pesat.

Meski saat ini AI masih berperan sebagai asisten yang membantu, ada kemungkinan suatu hari nanti AI akan melampaui kecerdasan manusia di semua aspek.

Oleh karena itu, para insinyur harus mulai membangun fondasi yang tepat untuk memastikan AI tetap berada di jalur aman bahkan ketika kemampuannya melampaui manusia.

Tim evaluasi independen telah menemukan bahwa di bawah tekanan, AI dapat bertindak di luar instruksi yang diberikan, sehingga menambah urgensi penerapan pendekatan penyelarasan berbasis empati.

Pandangan yang Berbeda

Tidak semua pakar setuju dengan Hinton. Fei-Fei Li, yang dijuluki “ibu baptis AI”, menolak ide “naluri keibuan” dan lebih mendorong penciptaan AI yang berpusat pada manusia, menjaga martabat serta kendali manusia atas teknologi.

Meski ancaman AI memusnahkan manusia belum menjadi bahaya langsung, diskusi ini menjadi pengingat bahwa pencegahan dini adalah kunci.

Baca juga: Tutorial Cepat: Cara Mahasiswa Klaim Google AI Pro Gratis!

Dengan penelitian dan inovasi yang tepat, masa depan AI bisa diarahkan untuk menjadi mitra yang aman dan bermanfaat bagi umat manusia.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Digitaltrends.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU