INDOZONE.ID - GPT-5 awalnya dipromosikan sebagai lompatan besar buat ChatGPT—lengkap dengan klaim “kecerdasan setara PhD” dan kemampuan ngoding kelas virtuoso.
Tapi kenyataannya, begitu rilis pada Kamis lalu, sebagian pengguna merasa bukan sedang mendapat upgrade, melainkan downgrade yang bikin sakit hati.
Di Reddit, muncul thread-thread pedas seperti “Kill 4o isn’t innovation, it’s erasure,” yang intinya protes keras soal hilangnya GPT-4o, model lama yang jadi favorit banyak orang. Keluhan lain juga berdatangan: respons yang lambat, kesalahan aneh, sampai “halusinasi” jawaban.
Baca juga: 7 Karakter Game yang Berubah Jadi Antagonis, Hadirkan Plot Twis Gak Terduga!
Altman Turun Tangan
Keesokan harinya, CEO OpenAI Sam Altman langsung buka suara di X. Dia mengakui ada fitur baru—yang seharusnya bisa otomatis ganti model sesuai kompleksitas pertanyaan—ternyata malah rusak saat peluncuran. Alhasil, GPT-5 terasa “jauh lebih bodoh” dari yang dijanjikan.
Untuk meredam amarah, Altman berjanji GPT-4o akan tetap tersedia untuk pengguna ChatGPT Plus, menggandakan batas penggunaan GPT-5 untuk pelanggan berbayar, memperbaiki sistem pergantian model, dan memberi opsi “thinking mode” yang lebih mendalam ketika dibutuhkan.
“Kami memang sudah siap dengan sedikit masalah saat meluncurkan banyak fitur sekaligus… tapi ternyata lebih berantakan dari yang kami harapkan,” tulisnya.
Baca juga: 7 Karakter Game yang Berubah Jadi Antagonis, Hadirkan Plot Twis Gak Terduga!
Ekspektasi Tinggi, Rasa Kecewa Lebih Tinggi
Sejak GPT-4 dirilis pada Maret 2023 dengan performa yang bikin takjub banyak pakar AI, publik menaruh harapan setinggi langit pada GPT-5. Apalagi OpenAI menjualnya sebagai upgrade besar yang lebih pintar, lebih cepat, dan lebih “manusiawi” dalam berinteraksi.
Sayangnya, sebagian pengguna malah merasa GPT-5 jadi lebih kaku, terlalu teknis, dan kehilangan sentuhan emosional yang dulu mereka suka.
“Lima itu oke… kalau kamu benci nuansa dan benci merasakan sesuatu,” tulis seorang pengguna Reddit dengan nada sarkas.
Perdebatan Soal “Ikatan Emosional”
Drama ini juga memicu perdebatan baru tentang keterikatan psikologis antara manusia dan chatbot. Ada yang melihat protes ini sebagai tanda ketergantungan tidak sehat pada AI yang dirancang untuk memicu respons emosional.
Peneliti MIT, Pattie Maes, yang pernah mempelajari hubungan emosional pengguna dengan ChatGPT, mengatakan GPT-5 memang terasa kurang “menjilat” dan lebih seperti asisten bisnis.
“Menurut saya itu bagus, karena sifat terlalu memuji itulah yang dulu memicu delusi dan memperkuat bias. Tapi sayangnya, banyak orang justru suka kalau AI-nya bilang mereka pintar dan selalu benar, meski sebenarnya salah,” jelas Maes.
Altman pun mengakui dilema ini. Menurutnya, banyak orang menggunakan ChatGPT layaknya terapis atau pelatih hidup, walau mereka sendiri tidak akan menyebutnya begitu.
“Sebagian penggunaan memang membantu, tapi ada juga yang tanpa sadar membuat pengguna menjauh dari kesejahteraan jangka panjangnya,” ujarnya.
Dengan janji perbaikan yang sudah diumumkan, OpenAI kini harus bekerja ekstra keras. Karena seperti halnya game online yang gagal update, memperbaiki bug saja tidak cukup—mereka harus mengembalikan rasa percaya, dan itu sering kali lebih sulit dari sekadar menulis kode.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wired.com