Menelisik Sejarah Artificial Intelligence dari Awal Kemunculan Idenya Beberapa Dekade Lalu
INDOZONE.ID - Artificial intelligence (AI) atau akal imitasi sedang booming bebeberapa tahun belakangan. Tapi apa Kamu tahu kalau perkembangannya sudah jauh dimulai sejak beberapa dekade lalu?
Istilah artificiali intelligence pertama disebut oleh seorang professor dari Massachusetts Institute of Technology yang Bernama John McCarthy.
Ia menyampaikannya pada tahun 1956 dalam Dartmouth Conference yang dihadiri oleh para peneliti AI. Pada konferensi itu pula tujuan utama dari pembuatan artificial intelligence didefinisikan.
Dari hasil konfrensi tersebut disepakati bahwa ai bertujuan mengetahui dan memodelkan proses-proses berpikir manusia dan mendesain mesin agar dapat menirukan kelakuan manusia tersebut.
Baca juga: Infinix GT 30 Tampil di Geekbench, Smartphone Gaming Terjangkau dengan Dimensity 7400
Sejarah Awal
Semua bermula lebih ke belakang lagi. Pada tahun 1943, Warren McCulloch dan Walter Pitts mengeluarkan paper yang berjudul “A Logical Calculus of the Ideas Immanent in Nervous Activity”.
Paper ini berisikan tentang logical calculus dan juga konsep awal dari Artificial Neural Network. Jadi AI merupakan konsep yang sebenarnya sudah lama.
Jadi bagaimana kepintaran dari sebuah mesin itu diukur? Pada tahun 1950-an para ilmuwan dan peneliti mulai memikirkan bagaimana caranya agar mesin dapat melakukan pekerjaannya seperti yang bisa dikerjakan oleh manusia.
Alan Turing, yang merupakan seorang matematikawan dari Inggris, pertama kali mengusulkan adanya pengujian untuk melihat bisa tidaknya sebuah mesin dapat dikatakan cerdas.
Hasil pengujian tersebut kemudian dikenal dengan Turing Test, di mana mesin tersebut menyamar seolah-olah sebagai seseorang di dalam suatu permainan yang mampu memberikan respon terhadap serangkaian pertanyaan yang diajukan.
Turing beranggapan, jika mesin dapat membuat seseorang percaya bahwa dirinya mampu berkomunikasi dengan orang lain, maka dapat dikatakan bahwa mesin tersebut cerdas, seperti layaknya manusia.
Baca juga: Lihat Pertama Kali Gameplay The Blood of the Dawnwalker dari Developer Mantan CD Projekt
Chatbot pertama (Eliza, 1964)
Chatbot pertama bernama Eliza ditemukan pada tahun 1964 oleh Joseph Wiezenbaum di laboratorium Kecerdasan Buatan di MIT.
Eliza merupakan robot psikoterapi yang memberikan respons awal kepada penggunanya. Dengan begitu, seseorang merasa sedang berbicara dengan orang lain yang memahami permasalahannya.
Di sini, ide utamanya adalah agar individu tersebut lebih banyak berbicara dan mendapat anggapan bahwa dia memang sedang berbicara dengan psikiater.
Baca juga: Little Nightmares 3 Siap Rilis Oktober 2025, Versi Enhanced dan Game VR Juga Diumumkan!
Manusia vs Mesin Pertama Kali
Pada tahun 1997 legenda catur bernama Gerry Kasparov ditantang untuk mengalahkan sebuah mesin yang bernama DeepBlue.
DeepBlue adalah komputer bermain catur yang dikembangkan oleh IBM. Semua orang yang melihat jalannya pertandingan itu terkejut karena DeepBlue berhasil mengalahkan sang juara catur, Garry Kasparov.
Hal ini membuat semua orang terheran-heran, bagaimana mesin dapat dengan mudah mengakali manusia dalam berbagai tugas.
Baca juga: Ultimate Sonic Smackdown: Game Fighting Sonic Buatan Fans yang Bisa Kamu Mainkan Gratis Sekarang!
Deep Learning, Big Data dan Artificial General Intelligence
Seiring berjalannya waktu, mulai tahun 2011 hingga sekarang, menjai momentum di mana teknologi AI mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam berbagai aspek.
Perkembangan tersebut mencakup penggunaan deep learning yang digunakan untuk memproses data besar dan potensi pencapaian Artificial General Intelligence (AGI).
Pada akhir tahun 2022, telah diluncurkan produk buatan OpenAI yang Bernama Chat GPT, Chat GPT sendiri mencatat sejarah dengan pertumbuhan aplikasi tercepat.
Hal tersebut disebabkan selain dari ChatGPT yang dapat menjawab hampir semua pertanyaan atau ide-ide yang kita inginkan, jawaban yang diberikan juga terlihat seperti ketikan manusia.
Ini adalah masa di mana kecerdasan buatan semakin mengintegrasikan dirinya dalam berbagai aspek di dalam kehidupan dan menjadi topik penting dalam perkembangan teknologi kedepannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal TIMES