Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 07 MEI 2026 • 13:40 WIB

Indonesia Pilih Pendekatan Kolaboratif untuk Bangun Industri AI di Tengah Rivalitas Global

Indonesia Pilih Pendekatan Kolaboratif untuk Bangun Industri AI di Tengah Rivalitas GlobalWamenkomdigi Nezar Patria di Jakarta Pusat. (ANTARA/Kementerian Komunikasi dan Digital)

INDOZONE.ID - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan Indonesia memilih pendekatan kolaboratif dalam membangun industri kecerdasan artifisial atau AI, di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global.

Menurut Nezar, di saat sejumlah negara memperkuat kontrol terhadap teknologi, Indonesia justru mendorong keseimbangan antara peran negara dan kerja sama lintas sektor untuk menciptakan ekosistem AI yang terbuka, inklusif, dan kompetitif.

“Atas nama pemerintah, kami selalu membuka kolaborasi, tidak hanya mengandalkan peran pemerintah, tetapi juga mendorong seluruh sektor industri dan pemangku kepentingan untuk bekerja sama dalam satu ekosistem membangun industri AI agar memberikan akses yang luas,” ujar Nezar dikutip Kamis (7/5/2026).

Ia mengatakan, pendekatan tersebut menjadi langkah strategis Indonesia di tengah tren global yang cenderung memperbesar dominasi negara terhadap teknologi.

Menurut Nezar, pendekatan yang terlalu menitikberatkan kontrol negara berisiko menciptakan ekosistem tertutup dan tidak sehat bagi perkembangan inovasi.

Baca juga: 5+ Daftar Pertanyaan Kritis tentang AI yang Belum Bisa Dijawab Teknologi Saat Ini

“Jika melihat tren global saat ini, termasuk di Amerika Serikat, terdapat pandangan bahwa negara perlu mengambil kendali lebih besar terhadap teknologi dan perusahaan teknologi. Namun, itu bukan jalan yang akan dipilih Indonesia karena berpotensi mengarah pada apa yang disebut sebagai fasisme teknologi,” jelasnya.

Dalam konteks geopolitik global, Nezar menilai industri semikonduktor kini menjadi arena utama perebutan pengaruh antarnegara. Kondisi tersebut menunjukkan pergeseran besar dari era energi fosil menuju era teknologi berbasis chip.

Ia menyebut negara-negara besar saat ini tengah berupaya memperkuat posisi dalam perang chip dan penguasaan pabrik semikonduktor.

Meski Indonesia belum masuk dalam rantai pasok global industri AI dan semikonduktor, Nezar menilai peluang yang dimiliki Indonesia masih sangat besar.

“Indonesia memiliki sejumlah mineral penting, seperti emas, kobalt, dan nikel, yang digunakan dalam proses pembuatan semikonduktor. Tantangannya adalah bagaimana mengolah mineral tersebut agar siap menjadi bagian dari komponen yang dibutuhkan industri,” ujar Nezar.

Baca juga: 5 Alasan AI Terasa Lebih Peduli daripada Manusia, Kok Bisa?

Selain sumber daya alam, Indonesia juga dinilai memiliki kekuatan dari sisi sumber daya manusia. Bonus usia produktif disebut dapat menjadi modal penting untuk mendukung pengembangan industri AI nasional.

Karena itu, pemerintah terus menyiapkan berbagai program strategis guna mencetak talenta digital yang mampu bersaing di sektor AI.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Indonesia Pilih Pendekatan Kolaboratif untuk Bangun Industri AI di Tengah Rivalitas Global

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!