Minggu, 16 MARET 2025 • 12:45 WIB

Ujian Besar bagi Ubisoft di Era FutureOfGaming untuk mengembangkan Assasin's Creed Shadows

Author

  ilustrasi Assassin's Creed Shadows ( web @thegamer )

INDOZONE.ID - Assassin's Creed Shadows semakin mendekati tanggal rilis dan tampaknya menjadi salah satu UbisoftGame yang paling dinanti tahun ini.

Sejak pertama kali diumumkan, game action RPG ini telah menarik perhatian, bukan hanya karena elemen GameActionRPG yang diusungnya, tetapi juga karena peranannya dalam Future Of Gaming.

Dalam industri yang terus berkembang, Assassin's Creed Shadows hadir di tengah ketegangan budaya yang semakin meluas di dunia video game, di mana setiap kemenangan dipuja dan setiap kekalahan terlupakan begitu saja.

Namun, lebih dari sekadar sebuah fenomena budaya, Ubisoft Game ini juga menjadi ujian besar bagi Ubisoft, perusahaan yang pernah mendefinisikan genre permainan dunia terbuka.

Kini, mereka sangat membutuhkan keberhasilan besar setelah beberapa proyek sebelumnya mengalami hambatan. Assassin's Creed Shadows, yang sempat mengalami penundaan dua kali, kini menjadi harapan utama Ubisoft game untuk bangkit.

Baca Juga: Rangkuman Live Stream Genshin Impact Versi 5.5 Terbaru 2025 !

Assassin's Creed Shadows Apakah Akan Berbeda atau Tetap Sama?

ilustrasi Assassin's Creed Shadows ( web @thegamer )

Pada intinya, Assassin's Creed Shadows tetaplah sebuah GameSinglePlayer dalam seri Assassin’s Creed. Bisa jadi game ini akan menjadi salah satu yang terbaik, atau justru sebaliknya.

Yang pasti, game single player ini tetap mempertahankan DNA khas seri Assassin's Creed dengan gameplay yang memadukan aksi dan eksplorasi. Beberapa bagian akan terasa inovatif dan menyenangkan, sementara beberapa aspek mungkin masih terasa usang.

Kamu akan menemukan momen-momen epik dalam cerita, tetapi juga akan ada bagian yang terasa membosankan. Seperti game-game sebelumnya, Assassin's Creed Shadows memiliki potensi untuk memberikan pengalaman mendalam bagi para penggemarnya.

Namun, pertanyaannya adalah, apakah ini akan cukup untuk membawa Ubisoft kembali ke puncak industri gaming?

Kondisi finansial Ubisoft saat ini masih menjadi tanda tanya besar, terutama setelah beberapa kegagalan dalam proyek layanan langsung serta hasil yang kurang memuaskan dari Prince of Persia: The Lost Crown, Star Wars Outlaws, dan Assassin’s Creed Mirage.

Sebagai salah satu franchise terbesar di industri, Assassin's Creed telah terjual lebih dari 200 juta kopi hingga September 2022. Assassin’s Creed Valhalla sendiri berhasil mencetak angka penjualan 20 juta kopi dan meraih pendapatan lebih dari $1 miliar.

Jika Shadows mampu mengikuti jejak kesuksesan ini, Ubisoft bisa kembali ke jalur kemenangan. Namun, banyak yang berpendapat bahwa Valhalla hanya 'cukup bagus'—menghibur, tetapi tidak menghadirkan daya tarik yang sama seperti trilogi Ezio atau Black Flag.

Lima tahun setelah perilisan Valhalla, apakah Shadows mampu menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar 'cukup bagus'? Mengingat tren industri yang semakin condong ke arah mekanisme layanan langsung, game dengan fokus pemain tunggal seperti Shadows akan menghadapi tantangan besar.

Baca Juga: Kode Redeem Honkai Star Rail Terbaru 12 Maret 2025: Dapatkan Hadiah Gratis!

Dapatkah Assassin’s Creed Shadows Bertahan dalam Perang Budaya?

Salah satu aspek paling kontroversial dari Assassin’s Creed Shadows adalah kehadiran Yasuke, seorang tokoh sejarah nyata, sebagai karakter utama.

Kritik terhadap kehadiran Yasuke sebagai protagonis kulit hitam dalam latar Jepang Feodal menjadi perdebatan yang cukup besar.

Beberapa pihak menganggapnya sebagai keputusan yang kurang tepat secara historis, sementara yang lain melihatnya sebagai bagian dari tren keberagaman di industri gaming.

Ubisoft telah memberikan pernyataan bahwa pemilihan Yasuke sebagai karakter utama bukanlah keputusan yang dibuat tanpa pertimbangan matang.

Namun, diskusi seputar keberagaman dalam video game kerap kali menimbulkan kontroversi, seperti yang juga dialami oleh beberapa game lain seperti Space Marine 2, Monster Hunter Wilds, dan Baldur’s Gate 3.

Meskipun awalnya dicap sebagai 'woke', beberapa game tersebut akhirnya sukses di pasaran dan membuktikan bahwa kualitas gameplay lebih penting daripada perdebatan politik di sekitarnya.

Namun, Assassin’s Creed Shadows tampaknya berada dalam posisi yang lebih sulit. Jika game ini hanya menawarkan pengalaman Assassin's Creed standar tanpa inovasi berarti, maka para kritikus akan semakin vokal dalam memberikan penilaian negatif.

Sebaliknya, jika Shadows mampu memberikan pengalaman bermain yang imersif dan memikat, maka ia berpotensi mengubah persepsi negatif dan meraih kesuksesan besar.

Baca Juga: Rekomendasi 5 Hero Jungler OP di MPL ID S15, Bisa Kamu pakai untuk Push Rank

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Thegamer.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU