INDOZONE.ID - Di balik pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), terdapat infrastruktur fisik yang berkembang sangat cepat, yakni pusat data (data center). Ribuan server dengan konsumsi energi besar menjadi fondasi ambisi perusahaan teknologi. Namun, di berbagai belahan dunia, keberadaan data center mulai memicu penolakan dari masyarakat.
Pembangunan data center membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar. Dampaknya, tagihan listrik warga ikut meningkat, lingkungan terancam, dan konflik dengan komunitas sekitar pun tak terhindarkan. Dari wacana peluncuran data center ke luar angkasa hingga sengketa hukum, berbagai persoalan terus bermunculan.
Senator AS Desak Transparansi Konsumsi Energi
Dua senator Amerika Serikat, Elizabeth Warren dan Josh Hawley, mengirim surat kepada Energy Information Administration (EIA) pekan lalu. Mereka meminta lembaga tersebut mengumpulkan data penggunaan energi tahunan data center secara komprehensif dan membukanya ke publik.
Keduanya juga mendesak adanya kewajiban pelaporan tahunan bagi pusat data, karena data tersebut dinilai penting untuk perencanaan jaringan listrik yang akurat. Permintaan ini muncul setelah EIA mengumumkan program percontohan sukarela untuk mengevaluasi penggunaan energi data center di Texas, Washington, Virginia Utara, dan Washington DC.
Baca juga: Tak Main-Main! Bezos dan Musk Mulai Perang Baru Lewat Data Center AI di Orbit
Dampak Konflik Global terhadap Industri
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut berdampak pada industri teknologi. Iran mengancam akan membatasi ekspor minyak, sementara Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi energi global dilaporkan mulai dipasangi ranjau.
Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga energi, yang pada akhirnya meningkatkan biaya operasional data center dan berdampak pada tagihan listrik konsumen.
Raksasa Teknologi Teken Komitmen Tarif Listrik
Menanggapi kritik publik, sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Google, Meta, Microsoft, Oracle, OpenAI, Amazon, dan xAI menandatangani Ratepayer Protection Pledge. Komitmen ini bertujuan mencegah lonjakan biaya listrik akibat ekspansi data center.
Langkah tersebut diambil di tengah kekhawatiran masyarakat bahwa kehadiran pusat data akan meningkatkan beban biaya listrik rumah tangga.
Upaya Mitigasi dari Perusahaan AI
Perusahaan AI Anthropic, pengembang Claude, turut berkomitmen untuk menekan dampak pembangunan data center. Mereka menyatakan akan menanggung biaya tambahan infrastruktur listrik yang dibutuhkan, termasuk yang berpotensi dibebankan kepada konsumen.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap masyarakat sekitar lokasi pembangunan.
Baca juga: Microsoft Resmikan Data Center di RI, Ini 8 Dampaknya buat Ekonomi dan Talenta AI
Perlawanan Masyarakat Menguat
Sepanjang 2025, penolakan terhadap proyek data center meningkat di berbagai wilayah. Kelompok masyarakat, pemilih, hingga pemerintah lokal menuntut transparansi dan akuntabilitas lebih dari pengembang.
Sejumlah proyek bernilai miliaran dolar bahkan berhasil ditunda atau dibatalkan. Di Oregon, proyek data center Amazon dituding mempercepat pencemaran air tanah yang dikaitkan dengan peningkatan kasus kanker dan keguguran. Sementara di Louisiana Utara, warga mengaku khawatir terhadap dampak besar yang akan ditimbulkan proyek serupa milik Meta.
Pertarungan yang Masih Berlanjut
Data center menjadi tulang punggung perkembangan AI, tetapi dampaknya tidak hanya terkait ekonomi. Ada aspek sosial, lingkungan, hingga keadilan energi yang ikut dipertaruhkan.
Dengan kebutuhan energi AI yang diperkirakan terus meningkat, tarik-menarik antara kepentingan industri teknologi dan masyarakat diprediksi akan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Theverge.com