INDOZONE.ID - Aplikasi baru bernama UpScrolled tiba-tiba jadi perbincangan hangat usai viral di beberapa negara, terutama di Amerika Serikat (AS). Banyak pengguna mulai pindah karena lagi cari alternatif selain TikTok.
UpScrolled dibuat oleh Issam Hijazi, pengusaha Palestina-Yordania-Australia. Popularitasnya melejit setelah TikTok versi AS resmi diambil alih investor dan perusahaan yang didukung Amerika.
Meski operasional global TikTok masih dijalankan ByteDance, perubahan kepemilikan ini bikin sebagian pengguna jadi berhati-hati.
Akuisisi saham TikTok versi AS juga melibatkan Larry Ellison, pemilik Oracle yang dikenal sebagai pendukung Israel dan dekat dengan Benjamin Netanyahu. Hal ini memicu kekhawatiran soal potensi sensor konten pro-Palestina.
Baca juga: Kampanye Wrapped Sukses, Pengguna Aplikasi Streaming Musik Ini Meningkat Tajam
Situasi makin memanas setelah TikTok memblokir jurnalis Gaza, Bisan Owda, yang merupakan kontributor Al Jazeera. Keputusan itu langsung membuat pendukungnya marah dan menyerukan boikot.
Apa Itu UpScrolled?
UpScrolled disebut campuran antara aplikasi X dan Instagram, karena aplikasi ini bisa upload teks, foto, hingga video pendek. Tampilan antarmukanya mirip X, lengkap dengan fitur like, komentar, dan repost.
Uniknya, meski disebut aplikasi video pendek, sejauh ini banyak pengguna lebih sering mengunggah teks dan foto.
Ada juga “Halaman Temukan” yang konsepnya mirip Snapchat. Dan sejauh ini, topik Palestina jadi yang paling sering muncul di sana.
Beberapa figur publik juga sudah gabung, seperti Chris Smalls dan Jacob Berger, yang dikenal ikut dalam misi Gaza Freedom Flotilla.
Sempat ada keluhan video error awal pekan ini, tapi pihak UpScrolled bilang itu karena lonjakan pengguna besar-besaran. Update terbaru diklaim sudah memperbaiki bug tersebut.
Baca juga: Threads Hadirkan Fitur “Dear Algo”, Pengguna Kini Bisa Atur Algoritma Konten
Siapa di Balik UpScrolled?
Aplikasi ini didirikan Juli 2025 oleh Issam Hijazi, yang sebelumnya pernah bekerja di perusahaan teknologi besar seperti Oracle dan IBM. UpScrolled juga didukung oleh Tech for Palestine, proyek advokasi yang mendanai inisiatif teknologi pro-Palestina.
Dalam wawancara dengan media teknologi Rest of World, Hijazi bilang ia tergerak membangun platform alternatif karena frustrasi dengan sensor konten di platform besar.
"Saya tidak bisa menahannya lagi. Saya kehilangan anggota keluarga di Gaza, dan saya tidak ingin terlibat dalam hal ini. Jadi saya berpikir, saya sudah cukup dengan ini, saya ingin merasa berguna," ujar Hijazi.
Menurutnya, banyak orang mempertanyakan kenapa nggak ada alternatif selain platform Big Tech yang dianggap sering menyensor konten. Jadi dia memutuskan untuk membuat aplikasinya sendiri.
UpScrolled mengklaim hanya memoderasi konten ilegal seperti penjualan narkoba, tapi tidak membatasi opini politik. Berandanya juga masih kronologis atau berdasarkan waktu unggah, bukan algoritma tersembunyi.
"Bukan karena kami tidak tahu caranya: merancang algoritma untuk melakukan itu sangat mudah," ungkap Hijazi.
Tapi ia memilih tidak melakukannya karena khawatir dampaknya ke kesehatan mental, terutama anak muda.
Baca juga: Cara Logout Netflix di TV dengan Cepat, Mudah, dan Aman
Menurut data Sensor Tower, sejak diluncurkan Juni 2025, UpScrolled sudah diunduh sekitar 400 ribu kali di AS dan 700 ribu kali secara global.
Lonjakan paling tinggi terjadi antara 21–27 Januari, tepat setelah TikTok menandatangani kesepakatan versi AS yang dikendalikan Amerika.
UpScrolled bahkan sempat duduk di peringkat pertama kategori jejaring sosial di App Store AS, mengalahkan Threads, WhatsApp, sampai TikTok. Di Google Play, posisinya juga masuk jajaran atas aplikasi sosial gratis.
Karena kebanjiran pengguna, Hijazi sampai menulis kalau servernya mengalami beban yang luar biasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aljazeera