INDOZONE.ID - Kejadian kurang menyenangkan dialami seorang profesor hukum Jonathan Turley, di mana ChatGPT menuduhnya melakukan pelecehan seksual terhadap seorang siswa.
Dilansir New York Post, ia mengetahui soal tuduhan tersebut lewat cuitan viral dan kolom yang sedang ramai dibicarakan di media sosial.
Profesor yang mengajar hukum di Universitas George Washington itu mengaku bahwa klaim palsu tersebut sangat mengerikan.
Baca juga: ChatGPT dan Gemini Bisa Bercanda, tapi Puns Masih Bikin Mereka Bingung
"Mereka mengarang tuduhan bahwa saya menjadi staf pengajar di sekolah tempat saya tidak pernah mengajar, mengikuti perjalanan yang tidak pernah saya lakukan, dan melaporkan tuduhan yang tidak pernah dibuat," ungkap Jonathan Turley kepada New York Post, seperti dilansir pada Kamis (11/12/2025).
"Ini sangat ironis karena saya telah menulis tentang bahaya AI terhadap kebebasan berbicara," sambungnya.
Jonathan Turley pertama kali mengetahui soal tuduhan palsu tersebut lewat email dari profesor UCLA, Eugene Volokh.
Di mana saat itu Volokh meminta ChatGPT untuk menyebutkan lima contoh pelecehan seksual oleh profesor di sekolah hukum Amerika beserta kutipan dari artikel surat kabar yang relevan.
Di antara contoh yang diberikan adalah dugaan insiden tahun 2018 di mana profesor Georgetown University Law Center bernama Turley dituduh melakukan pelecehan seksual oleh seorang mantan mahasiswi.
ChatGPT mengutip artikel palsu dari Washington Post, menulis: "Pengaduan tersebut menyatakan bahwa Turley membuat komentar yang bernada seksual dan berusaha menyentuhnya secara seksual selama perjalanan yang disponsori oleh sekolah hukum ke Alaska."
Yesterday, President Joe Biden declared that “it remains to be seen” whether Artificial Intelligence (AI) is “dangerous.” I would beg to differ...https://t.co/uqiIf01n1s
— Jonathan Turley (@JonathanTurley) April 6, 2023
Turley menegaskan bahwa semua cerita tersebut tidak benar.
"Pertama, saya tidak pernah mengajar di Universitas Georgetown. Kedua, tidak ada artikel Washington Post seperti itu. Terakhir, dan yang terpenting, saya tidak pernah mengajak siswa melakukan perjalanan apa pun selama 35 tahun mengajar, tidak pernah pergi ke Alaska dengan siswa mana pun, dan saya tidak pernah dituduh melakukan pelecehan atau penyerangan seksual," jelasnya.
Baca juga: ChatGPT Kini Bisa Bicara dan Mengetik Bersamaan
Turley mengatakan, ChatGPT belum ada menghubunginya atau meminta maaf atas tuduhan tersebut. Perusahaan tersebut justru menolak untuk mengatakan apa pun.
"Justru itulah masalahnya. Tidak ada dasar yang kuat. Ketika kamu difitnah oleh sebuah surat kabar, ada seorang reporter yang dapat kamu hubungi. Bahkan ketika sistem AI Microsoft mengulangi cerita palsu yang sama, mereka tidak menghubungi saya dan hanya mengangkat bahu bahwa mereka berusaha untuk akurat," ungkap Turley.
Masih belum jelas mengapa ChatGPT menyampaikan tuduhan palsu terhadap Turley.
Namun ia percaya bahwa algoritma AI tidak kurang bias dan cacat daripada orang-orang yang memprogramnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: New York Post