Gen Z dan Milenial Target Empuk Penipuan Digital, 66% Orang Dewasa di Indonesia Pernah Jadi Korban
INDOZONE.ID - Laporan Global Anti Scam Alliance (GASA) bertajuk State of Scams in Indonesia 2025 mengungkap fakta mengerikan soal penipuan digital di Indonesia.
Dua dari tiga orang dewasa di Indonesia mengalami penipuan dalam setahun terakhir, dengan total kerugian mencapai Rp49 triliun.
Peluncuran laporan ini dilakukan bersama Mastercard dan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), bertepatan dengan semangat Hari Sumpah Pemuda.
Gen Z dan Milenial Jadi Target Empuk
Dari survei terhadap 1.000 responden di seluruh Indonesia, sebanyak 66 persen pernah terpapar penipuan, dan 35 persen di antaranya benar-benar menjadi korban.
Sekitar 14 persen mengalami kerugian finansial dengan rata-rata Rp1,7 juta per orang.
Platform paling sering dipakai pelaku adalah pesan langsung, seperti aplikasi chatting dan SMS.
Sebanyak 34 persen responden menilai lembaga publik, terutama pemerintah seharusnya bertanggung jawab melindungi masyarakat dari ancaman ini.
Reski Damayanti, Ketua GASA Indonesia Chapter sekaligus Chief Legal & Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison, menyebut penipuan digital bukan lagi masalah kecil.
“Penipuan digital telah merugikan masyarakat di seluruh Indonesia, mengikis kepercayaan, menguras keuangan, dan mengancam keamanan konsumen sehari-hari,” ujarnya.
Baca juga: Google Klaim Android Lebih Aman dari Penipuan Dibanding iPhone, Berdasarkan Data Terbaru
Ia menegaskan bahwa pencegahan harus diperkuat dengan teknologi seperti AI, kolaborasi lintas sektor, dan regulasi yang jelas.
“GASA Indonesia berkomitmen menciptakan lingkungan digital yang aman, inklusif, dan terpercaya bagi seluruh masyarakat,” tambahnya.
Kepercayaan Jadi Fondasi Ekonomi Digital
Senada dengan itu, Aileen Goh, Country Manager Mastercard Indonesia dan Wakil Ketua GASA Indonesia Chapter, menegaskan bahwa ancaman penipuan kini telah menjadi risiko sistemik bagi ekonomi digital.
“Indonesia berada di garis depan transformasi digital, tapi ancaman penipuan juga meningkat. Kepercayaan adalah fondasi ekonomi digital yang inklusif,” kata Aileen.
Menurutnya, aksi kolektif lintas sektor lebih penting daripada sekadar teknologi. Mastercard, katanya, berfokus pada kolaborasi, berbagi intelijen, dan memperkuat ketahanan siber masyarakat Indonesia.
AI Bisa Jadi Tameng
Sementara itu, Putri Alam, Government Affairs and Public Policy Director Google Indonesia, menjelaskan bagaimana teknologi kecerdasan buatan membantu melawan scam online.
“AI di perangkat kami memungkinkan deteksi penipuan real-time di Google Messages dan memperkuat Safe Browsing di Chrome,” ujarnya.
Google juga menerapkan prinsip private by default dan secure by design pada setiap produk untuk melindungi pengguna.
“Tidak ada satu pihak pun yang bisa menyelesaikan masalah ini sendirian,” tambahnya.
Penipuan Bukan Sekadar Soal Uang
Direktur GASA APAC, Brian D. Hanley, mengingatkan bahwa penipuan digital berdampak emosional bagi korbannya.
“Setiap kasus penipuan punya wajah manusia di baliknya. Orang tua kehilangan tabungan, mahasiswa takut melapor, pelaku UMKM tak bisa bangkit. Penipuan tidak hanya mengambil uang, tapi juga kepercayaan antar manusia,” tegasnya.
10 Rekomendasi untuk Lawan Penipuan Digital
Laporan GASA menyusun 10 rekomendasi utama yang dibagi dalam tiga langkah besar:
Memberdayakan konsumen melalui edukasi berkelanjutan dan dukungan bagi korban.
Mewujudkan internet yang lebih aman dengan pemblokiran penipuan di tingkat jaringan serta pelacakan transaksi lintas platform.
Memperkuat kerja sama lintas sektor, termasuk pembentukan pusat anti-penipuan nasional dan kolaborasi global dalam investigasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan