INDOZONE.ID - Setelah penantian panjang selama lebih dari satu dekade, Vampire: The Masquerade – Bloodlines 2 akhirnya hadir.
Namun sayangnya, proyek yang sempat bermasalah sejak masa pengembangannya ini justru berakhir dengan hasil yang mengecewakan.
Dikembangkan oleh The Chinese Room dan diterbitkan oleh Paradox Interactive, game ini mencoba menghidupkan kembali semangat RPG vampir klasik tahun 2004.
Tapi alih-alih menjadi penerus yang megah, Bloodlines 2 justru kehilangan arah antara mau jadi action game, stealth, atau immersive sim, semuanya terasa setengah hati.
Baca juga: 20 Daftar Lengkap Pengisi Suara Vampire: The Masquerade Bloodlines 2, Ada Aktor Peraih BAFTA
Konsep Menarik tapi Gagal Tumbuh
Berbeda dari game pertamanya yang membuat pemain berperan sebagai vampir baru yang haus kekuatan. Kali ini, pemain langsung menjadi Elder Vampire, sosok vampir kuno yang terbangun setelah tidur seratus tahun.
Di awal permainan, sensasinya luar biasa, pemain bisa meninju manusia hingga terpental, memanjat dinding layaknya laba-laba, melayang di udara, dan melesat dengan kecepatan super.
Sayangnya, setelah itu tidak ada perkembangan berarti. Game ini hampir tak memiliki sistem character progression.
Pemain hanya mendapatkan empat kemampuan utama sesuai klan vampir yang dipilih, dan semuanya bisa terbuka dalam waktu dua jam.
Tidak ada loot, gear upgrade, atau peningkatan kekuatan berarti membuat elemen RPG di dalamnya terasa sangat tipis. Padahal, inti dari action RPG adalah fantasi menjadi lebih kuat seiring waktu.
Namun Bloodlines 2 justru membuat kamu stagnan sejak awal hingga akhir permainan.
Misi Sampingan Hambar dan Dunia Hampa
Masalah lain yang muncul adalah misi sampingan yang terasa repetitif. Sebagian besar hanya berupa fetch quest seperti membunuh target acak atau mengambil paket. Hampir tidak ada narasi menarik yang menyertainya.
Satu-satunya nilai tambah justru datang dari karakter para pemberi misi, para pemimpin klan vampir dengan kepribadian unik dan akting suara yang memukau.
Namun interaksi itu pun berakhir cepat tanpa pengaruh berarti terhadap alur cerita utama.
Dunia dalam Bloodlines 2 terasa seperti panggung kosong. NPC yang kamu temui di klub malam atau jalanan Seattle hanya berdiri diam, tanpa reaksi atau interaksi bermakna.
Bahkan ketika pertempuran berlangsung di atap, orang-orang di bawah tidak menunjukkan kepanikan apa pun dunia ini benar-benar mati.
Dua Sisi Karakter: Fabien Menyelamatkan Cerita
Salah satu ide terbaik dari game ini adalah kehadiran Fabien, detektif vampir yang "hidup" di dalam pikiranmu setelah kebangkitan sang Elder.
Melalui Fabien, pemain bisa melihat dunia dari sudut pandang yang lebih manusiawi dan filosofis.
Dialog antara kamu dan Fabien, terutama saat berdiskusi sebelum tidur, memberikan konteks dan kedalaman pada kisahnya.
Suara aktor Ronan Summer yang memerankan Fabien menjadi salah satu performa terbaik di game ini, bahkan ketika ia mengisi suara benda-benda hidup seperti lemari arsip yang berbicara. Ya, itu benar-benar ada.
Sayangnya, walau interaksi dengan karakter terasa hidup, keputusan yang kamu ambil nyaris tak berdampak nyata pada akhir cerita.
Tak ada branching narrative yang kuat, hanya ilusi pilihan yang tak benar-benar mengubah apa pun.
Aksi yang Tidak Tajam dan Terlalu Repetitif
Sebagai game yang mengedepankan aksi, Bloodlines 2 juga kurang menggigit. Pertarungan tangan kosong terasa kaku dan membosankan.
Kamu bisa menggunakan kekuatan vampir seperti mengendalikan musuh agar saling bertarung, atau mematahkan leher sekelompok musuh sekaligus, tapi sayangnya kemampuan itu terbatas oleh kebutuhan darah.
Sementara itu, kamu tidak bisa menggunakan senjata manusia seperti pedang atau pistol. Alhasil, variasi dalam pertarungan sangat sedikit.
Meski ada momen seru saat kamu menggunakan taktik sembunyi-sembunyi dan menyerang dari bayangan, hal itu jarang terjadi.
Sebagian besar waktu, kamu hanya bertarung dalam kekacauan penuh tombol mash.
Baca juga: 'Vampire: The Masquerade – Bloodlines 2' Batalkan Rencana Kontroversial Bayar Clan
Visual Atmosferik, Tapi Dunia Kosong
Dari segi tampilan, The Chinese Room berhasil menampilkan Seattle yang suram dan penuh aura misteri.
Ada momen di mana pencahayaan dan atmosfernya terasa menawan, terutama di area bawah tanah atau kilas balik ke era 1920-an.
Namun keindahan itu tak cukup menutupi kekosongan dunia game-nya.
Kamu tidak akan menemukan interaksi berarti, eksplorasi terbatas, dan lokasi-lokasi yang jarang berubah.
Dunia Bloodlines 2 terasa seperti pameran ruangan indah yang tidak bisa disentuh.
Pesona yang Hilang di Tengah Bayangan
Vampire: The Masquerade – Bloodlines 2 memiliki fondasi menarik dan segelintir momen memukau, terutama lewat karakter dan atmosfernya.
Namun gameplay yang dangkal, dunia yang mati, serta kurangnya kedalaman RPG membuatnya terasa hampa.
Bagi penggemar berat dunia World of Darkness, game ini mungkin tetap punya daya tarik tersendiri.
Tapi bagi kamu yang mengharapkan pengalaman RPG mendalam seperti game pertamanya — Bloodlines 2 sayangnya belum berhasil bangkit dari kuburnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eurogamer.net