Minggu, 29 JUNI 2025 • 20:45 WIB

Sony Digugat di Belanda karena Atas Dugaan Monopoli Penjualan Digital PlayStation

Author

Sony Digugat di Belanda(Sumber:X/Eurogamer)

INDOZONE.ID - Sony kembali menghadapi gugatan hukum, kali ini di Belanda, terkait dugaan praktik monopoli dan harga yang dianggap terlalu tinggi di PlayStation Store.

Gugatan ini diajukan oleh organisasi nirlaba Belanda, Stichting Massaschade & Consument, atas nama 1,7 juta pengguna PlayStation di Belanda.

Baca juga: Beat Saber Resmi Hentikan Dukungan di PS4 dan PS5, Tunjukkan Kegagalan Dukungan Sony terhadap PSVR2

Apa Itu “Sony Tax”?

Organisasi tersebut menuduh Sony telah menyalahgunakan posisinya yang dominan di pasar konsol selama lebih dari satu dekade.

Dalam siaran pers yang dibagikan ke Eurogamer, mereka menyebut bahwa dominasi Sony atas penjualan digital, khususnya melalui konsol digital-only seperti PS5 Digital Edition, menciptakan situasi di mana pengguna tidak punya pilihan lain selain membeli game langsung dari PlayStation Store.

 Praktik inilah yang disebut sebagai “Sony Tax”.

Melalui kampanye yang diberi nama “Fair PlayStation”, organisasi ini mengklaim bahwa konsumen dipaksa membayar harga lebih tinggi untuk versi digital game, padahal biaya distribusi Sony jauh lebih rendah dibanding versi fisik.

 Penelitian ekonomi yang mereka kutip menunjukkan bahwa harga game digital rata-rata 47% lebih mahal dibanding versi fisiknya.

Harga Naik, Nilai Tak Bertambah

Ketua Stichting Massaschade & Consument, Lucia Melcherts, menyatakan bahwa kenaikan harga konsol PS5 beberapa waktu lalu memperkuat argumen mereka.

 Di Eropa, termasuk Belanda dan Inggris, harga PS5 Digital Edition naik hingga €50 tanpa ada peningkatan fitur atau nilai tambah lainnya.

Dua Tudingan Utama dalam Gugatan

Gugatan yang dikirim ke Sony berisi dua tuduhan pokok:

1. Mengecualikan persaingan: Sistem tertutup Sony membuat konsumen hanya bisa membeli konten digital dari PlayStation Store.

2. Mengeksploitasi konsumen dan pengembang: Harga ditentukan sepenuhnya oleh Sony, yang membatasi kebebasan komersial pengembang dan menaikkan beban biaya ke konsumen.

Organisasi tersebut memperkirakan bahwa kerugian konsumen di Belanda bisa mencapai €435 juta akibat ketidakseimbangan sistem ini.

Sidang Perdana Akan Digelar Akhir Tahun Ini

Sidang pertama dari gugatan ini dijadwalkan akan berlangsung pada akhir tahun 2025.

Jika berhasil, hasil dari gugatan ini bisa berdampak signifikan pada struktur penjualan digital game di Eropa dan mungkin dunia.

Gugatan Serupa Pernah Terjadi di Inggris

Kasus di Belanda ini bukan yang pertama menyorot praktik bisnis digital Sony.

Pada 2022, Alex Neill, mantan direktur pelaksana Which UK, juga menggugat Sony di Inggris atas dasar pelanggaran hukum persaingan.

Gugatan itu menyebutkan bahwa komisi 30% atas penjualan game dan item dalam game adalah bentuk penyalahgunaan kekuasaan pasar.

Kasus itu sudah disetujui untuk lanjut ke tahap persidangan pada awal tahun ini.

Praktik Monopoli di Industri Game Sedang Jadi Sorotan

Sony bukan satu-satunya perusahaan game besar yang digugat karena praktik monopolistik. Kasus terkenal lainnya termasuk:

  • Pertarungan hukum antara Epic Games dan Apple terkait pembatasan metode pembayaran di iOS.
  • Gugatan terhadap Microsoft terkait akuisisi Activision Blizzard, yang dianggap akan menciptakan dominasi tidak sehat di industri game.

Gugatan yang sedang dihadapi Sony di Belanda membuka kembali diskusi penting tentang kebebasan konsumen, transparansi harga digital, dan keseimbangan pasar dalam ekosistem gaming modern.

Jika kamu adalah pengguna PlayStation, khususnya di wilayah Eropa, langkah hukum ini bisa membawa perubahan besar dalam cara kamu membeli dan mengakses konten digital ke depannya.

Apakah kamu merasa harga game digital terlalu mahal dibanding versi fisik? Mungkin saatnya konsumen bersuara.

Baca juga: Sony Diam-Diam Cabut Pembatasan Penjualan PC untuk Beberapa Game PlayStation Populer

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Eurogamer.net

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU