Ilustrasi fenomena kecanduan game. (Eliani Kusnedi)
INDOZONE.ID - Fenomena kecanduan game di kalangan anak dan remaja semakin jadi sorotan. Nggak hanya soal waktu main yang kebablasan, tapi juga dampaknya ke produktivitas dan kehidupan sehari-hari.
Menjawab keresahan ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) resmi meluncurkan program bernama Digital Addiction Response Assistance (DARA).
Program DARA hadir sebagai platform layanan bimbingan dan konsultasi untuk pencegahan sekaligus penanganan kecanduan game pada anak. Peluncurannya dilakukan di Jakarta pada Jumat, dan jadi langkah lanjutan pemerintah setelah sebelumnya mengatur sistem rating game.
Baca juga: Roblox Bentuk Dewan Orang Tua Sedunia, Perkenalkan Inisiatif Parent Champions
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa layanan ini lahir dari keresahan publik yang semakin terasa.
"Keresahan bangsa secara umum bahwa anak-anak generasi muda kita semakin banyak yang kurang produktif karena adiksi terhadap game tapi yang paling utama, paling terusik juga adalah para orang tua," ujar Meutya, dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan, di satu sisi pemerintah tetap mendukung pertumbuhan industri game sebagai bagian dari ekosistem digital nasional dan ruang kreativitas anak muda. Namun di sisi lain, dampak negatif seperti kecanduan juga perlu ditangani secara serius.
Sebelumnya, pada Oktober 2025, Kemkomdigi sudah meluncurkan Indonesia Game Rating System (IGRS) sebagai pedoman klasifikasi game berdasarkan kelompok usia. Sistem ini bertujuan agar anak-anak mengakses game yang sesuai dengan usianya.
"Di Oktober 2025, Kemkomdigi sudah meluncurkan IGRS sebagai pedoman rating sistem untuk game," kata Meutya.
Baca juga: 5 Item Roblox Paling Ikonik yang Jadi Incaran Pemain
"Nah kita melangkah ke berikutnya, bagi mereka yang sudah teradiksi, bagi mereka yang sudah terpapar, pemerintah tentu harus hadir, di antaranya memberikan layanan terhadap mereka yang terkena adiksi," tambahnya.
Data yang dipaparkan juga cukup mengkhawatirkan. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 33 persen hingga 39 persen siswa SMA di Indonesia mengalami kecanduan game tingkat sedang hingga berat.
Secara global, prevalensi adiksi game berada di kisaran 1,96 persen hingga 3 persen populasi dunia, dengan kelompok laki-laki remaja dan dewasa muda sebagai yang paling berisiko.
"Ini menjadi catatan, kenapa kita lihat global? Karena Indonesia salah satu negara dengan pemain gim terbesar, nomor empat (terbesar)," kata Meutya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara