INDOZONE.ID - Tahun 2025 sempat diharapkan menjadi titik pemulihan setelah 2024 yang suram, namun kenyataannya justru memperlihatkan pola yang sama bahkan terasa lebih pahit.
Pasalnya, industri game kembali dipenuhi kabar pembatalan proyek besar, PHK massal, keputusan bisnis serakah, serta tren teknologi yang membuat kualitas kreatif semakin tergerus.
Baca juga: Game Nintendo Switch 2 Terbaik 2025 yang Wajib Kamu Mainkan
Sepanjang 2025, kamu dipaksa menyaksikan begitu banyak proyek ambisius yang dibatalkan begitu saja, mulai dari reboot Perfect Dark, game Wonder Woman dari Monolith, hingga proyek Black Panther milik EA, yang ironisnya tidak hanya menghapus harapan pemain tetapi juga menutup studio dan mengorbankan ratusan pengembang yang telah bekerja bertahun-tahun tanpa kepastian masa depan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa publisher besar semakin takut mengambil risiko dan lebih memilih memusatkan dana pada segelintir waralaba yang dianggap “aman”, meskipun konsekuensinya adalah matinya kreativitas, berkurangnya variasi game, dan semakin banyak talenta berpengalaman yang tersingkir dari industri.
Meskipun jumlah PHK di 2025 sedikit menurun dibandingkan 2024, hampir 10.000 pekerja industri game tetap kehilangan pekerjaan, dengan Microsoft kembali menjadi sorotan karena memangkas ratusan posisi di divisi gaming-nya, termasuk studio legendaris seperti Rare dan Zenimax, sementara Amazon Games, Square Enix, hingga studio indie juga ikut terdampak.
Situasi ini menciptakan atmosfer industri yang penuh kecemasan, di mana bahkan pengembang berbakat di proyek besar seperti BioShock 4 atau studio indie kreatif pun tidak kebal dari pemutusan hubungan kerja yang tiba-tiba dan sering kali tanpa kejelasan.
Tahun 2025 juga menjadi momen ketika penggunaan generative AI terasa semakin agresif dan terang-terangan, dengan banyak eksekutif industri memujinya sebagai alat efisiensi, meskipun pemain justru melihat hasil akhirnya berupa aset visual aneh, konten hambar, dan nuansa “AI slop” yang mencoreng game besar seperti Battlefield 6 dan Call of Duty terbaru.
Penolakan pemain terhadap AI art nyaris universal, namun investasi besar-besaran dari publisher seperti Ubisoft dan Krafton menandakan bahwa tren ini belum akan berhenti, membuat kamu harus bersiap menghadapi lebih banyak game yang terasa dingin, generik, dan kehilangan sentuhan manusia.
Di sisi konsumen, 2025 juga menjadi tahun di mana bermain game terasa semakin eksklusif, karena kenaikan harga konsol, aksesori, dan layanan berlangganan terjadi berulang kali, ditambah munculnya game berharga USD 80 yang mematahkan batas psikologis lama dan memicu kekhawatiran soal masa depan harga game.
Bahkan jalur PC yang dulu dianggap lebih hemat kini ikut terdampak, karena harga komponen naik akibat permintaan AI dan kebijakan tarif, sementara opsi perangkat terjangkau seperti Steam Deck versi murah justru dihentikan, membuat akses ke gaming semakin sulit bagi banyak orang.
Baca juga: Rekomendasi RPG Terbaik 2025 yang Wajib Kamu Mainkan, Apa Saja Ya?
Dari sensor konten oleh perusahaan kartu kredit, akuisisi EA oleh Arab Saudi, kegagalan total Mindseye, hingga penundaan berulang GTA 6 yang dibarengi tuduhan union busting, 2025 dipenuhi keputusan dan skandal yang membuat kepercayaan pemain terhadap industri semakin runtuh.
Semua ini membentuk gambaran suram bahwa masalah industri game bukan sekadar soal satu game buruk, melainkan sistem yang semakin menjauh dari pemain dan kreator, sehingga harapan terbesar menjelang 2026 hanyalah satu: semoga keadaan benar-benar tidak menjadi lebih buruk.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kotaku