Harga RAM Melonjak(Sumber:X/Eurogamer)
INDOZONE.ID - Kenaikan harga RAM yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai terasa sebagai masalah besar di industri teknologi, terutama gaming.
Dalam dua bulan saja, biaya RAM disebut-sebut melonjak lebih dari dua kali lipat. Beberapa toko bahkan berhenti mencetak label harga karena harus menggantinya hampir setiap hari.
Kondisi ini menunjukkan betapa cepatnya pasar komponen komputer berubah dan betapa besar tekanan yang muncul bagi produsen perangkat gaming.
Baca juga: 8 Cara Ampuh Mempercepat Kinerja Laptop dengan RAM 8 GB Tanpa Ganti Perangkat
Kenaikan harga RAM jelas membuat biaya rakit PC melonjak. Namun dampaknya tidak berhenti di sana. Konsol, handheld, hingga perangkat seperti Steam Machine juga ikut terpengaruh karena hampir semua hardware modern bergantung pada RAM.
Ada kabar bahwa Microsoft mungkin akan menaikkan harga Xbox, sementara perusahaan lain hanya bisa bertahan selama stok RAM lama mereka masih cukup.
Kamu mungkin bertanya-tanya, seberapa parah kenaikannya? Untuk DDR5, yang menjadi standar baru, harganya bahkan melonjak dari ratusan ribu menjadi jutaan rupiah. Beberapa kit 64GB kini dihargai lebih mahal dari konsol generasi terbaru.
Di balik kenaikan harga ini, salah satu penyebab terbesar adalah ledakan kebutuhan RAM yang dipicu oleh perkembangan AI.
Perusahaan teknologi, termasuk yang paling besar di dunia, membeli RAM dalam jumlah masif untuk menjalankan pusat data dan model AI mereka.
Ketika OpenAI menandatangani kerja sama besar dengan produsen memori global seperti Samsung dan SK hynix, perusahaan lain langsung panik dan mulai memborong stok.
Masalah juga diperparah oleh cadangan pabrikan yang rendah setelah pandemi, serta tarif antarnegara yang membuat rantai pasokan tidak stabil.
Kombinasi ini menciptakan situasi yang oleh beberapa analis disebut sebagai badai sempurna: campuran ketidaksiapan, kepanikan, dan keserakahan pasar.
Jika harga komponen seperti RAM terus meroket, perilisan konsol generasi baru bisa tertunda. Membuat perangkat baru yang harganya terjangkau akan sulit tanpa subsidi besar, dan tidak semua perusahaan mau mengambil risiko itu.
Beberapa analis percaya Sony dan Nintendo lebih mungkin meneruskan umur konsol mereka saat ini ketimbang memaksakan generasi berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eurogamer.net