Starfield Dianggap MembosankanSumber:X/Eurogamer)
INDOZONE.ID - Setiap kali Obsidian merilis game baru, wajar jika para pemain langsung membandingkannya dengan karya Bethesda.
Hal yang sama terjadi pada The Outer Worlds 2, yang justru membuat banyak orang kembali memikirkan Starfield, sebuah proyek ambisius yang sayangnya meninggalkan rasa kosong bagi banyak pemain.
Sebagian merasa Starfield kurang memiliki identitas khas Bethesda, sementara yang lain menilai game ini justru mempertegas masalah klasik yang sering muncul di judul-judul mereka.
Ditambah lagi, kondisi ekosistem modding yang kini terganggu oleh Creation Club berbayar, ekspansi Shattered Space yang mengecewakan, serta ketidakjelasan ekspansi kedua, semua memperburuk persepsi pemain terhadap masa depan game ini.
Baca juga: Shattered Space: DLC Terbaru Starfield Gagal Penuhi Ekspektasi, Apa Langkah Bethesda Selanjutnya?
Bruce Nesmith, mantan desainer Bethesda, bahkan mengakui bahwa Starfield tidak berada di level yang sama dengan Elder Scrolls atau Fallout.
Ia menyoroti ketergantungan berlebihan pada procedurally generated content dan berpendapat bahwa ruang angkasa itu memang membosankan secara inheren. Dan memang benar, ruang kosong yang luas sulit diisi dengan konten menarik tanpa mengorbankan imersi.
Banyak gim sci-fi mengatasi masalah ini dengan mengurangi peran eksplorasi space travel dan fokus pada planet-planet yang lebih padat konten, persis seperti yang dilakukan The Outer Worlds.
Game seperti No Man’s Sky menawarkan ruang angkasa yang masif, tapi sebagian besar planetnya lebih berfungsi sebagai gudang resource ketimbang lokasi eksplorasi bermakna.
Sebaliknya, Mass Effect dan The Outer Worlds sama sekali tidak memberikan pemain kendali atas pesawat luar angkasa dalam gameplay inti.
Mereka malah memilih fokus pada dunia, karakter, dan misi yang terarah dan hasilnya jauh lebih menarik untuk dijelajahi.
Starfield mencoba melakukan semuanya sekaligus: ruang angkasa, dogfighting, eksplorasi planet, crafting, pembangunan markas, hingga sistem ekonomi ala Elite Dangerous.
Namun sayangnya, banyak fitur tersebut terasa dangkal dan tidak menawarkan alasan kuat bagi pemain untuk terus terlibat.
Masalah terbesar muncul saat pemain mendarat di planet. Dunia yang dibentuk secara prosedural terasa repetitif, dengan titik minat yang hampir selalu sama dan jarak antar lokasi yang sangat melelahkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eurogamer.net